RSS

Kontradiktif

Tahun ajaran baru menuntut semua serba baru, sudah turun temurun smp rona jingga demikian keadaannya entah fiosofi  mana mereka pedomani, mungkin saja itu ajaran nenek moyangnya dulu. Baju putih biru yang dipakai senin selasa kudu diganti dengan yang baru, batik pun demikian, apalagi baju olahraga yang wajib diganti tiap tahunnya. Karena adat istadat yang kudu dan wajib dilaksanakan itu, jatah uang jajanku pun dipangkas ampe gundul ma mama pasalnya pengeluaran tuk keperluan sekolah makin tinggi. Dengan muka mengerinyit kemudian Sofi berkata
“Akhh mama gag asikkk bangettt, kok pke dikurangi sih ma?” sambil menggaruk kepala yang gak gatal.
“Apanya yang gak asik sopi? Pan ntar pake baju baru, bersih putih, putih bersih, kan nyaman dibadan. Klo gak suka ya udah uang jajannya full tapi bajunya pake baju taun kemaren, gak ada nego harga pas.”
“ haaaaaaaaaaa??? ……” mama berlalu meninggalkan aku di meja makan dengan muka kek gulungan kertas yang hendak di buang di tong sampah,, mmm gak gak, pasnya kek tomat bonyok yang dah membusukk. Akh pilihan mama buatku gegagu Galau Gelisa Gundah Gulana. Kalau disuruh milih cowo mah gag bakal gegegu begini  lah disuruh milih uang jajan dipangkas atw gag make baju. Eee gak pake seragam baru maksdnya.
Pagi ini mama bener-bener berhasil buatku bad mood. Mama gag tau apa tujuan utamaku sekolah tuh di SMP Rona Jingga yaa tidak lain dan tidak bukan karena jajanan di sana sedap-sedap euy, klo pagi tuh kita bisa sarapan dengan nasi kuning ditambah dua potong gorengan berisi wortel n kentang pedas, dengan sambal buatan ibu kantin yang sedapnya ampe lupa pelajaran fisika yang buat kepala berputar bag matahari yang sedang berotasi mengelilingi bumi, akh lebayy.. hhehe mmm ada lagi nih di sela-sela pergantian pelajaran tepatnya di samping musolah bersandarlah seorang bapak2 dengan topi capingnya dan senyum lebar khasnya dan kumis sumringah menyapa anak-anak yang ingin beli jajananya, siomay pak kumis. Ramah pisan euy bapaknya. Makan dua bulatan sebesar kepalan hanya lima ratus perak ditambah saus kacang yang super duper mantapp.. huaaalahhh jadi ngilerr.. murah banget khan siomaynya,, maklum masih jaman batu, sponge Bob aja blom ada di tipi.  Hehehe kalau bicara soal jajanan di sekolahku tidak ada habisnya euy… kembali ke topik awal, masalah uang jajan, bayangin aja uang jajan yang dikasi Cuma 2500perak, sudah termasuk PPNA yaitu pulang pergi naik angkot. Hehe dua ribunya untuk mkan sampe jam 2 siang lagi belum lagi kalao ada tugas mau di foto copy, pake dipangkas segalaa, akhhh yang bener aja nih.
                Dengan berat hati, sofi beranjak dari meja makan menuju sekolah. Riuhnya kelas tak mampu meredam kegalauan hati yang cukup mendalam, c’ilee baru aja gitu gimana kalau diselingkuhi pacar eaa hehehe gimana mau diselingkuhi punya teman cowo aj kaga, punya sih tp rata-rata sekong. Aduhaiiii.. pagi ini kelas bener-benar gaduh, bukan karena persiapan upacara yang diadakan tiap senin pagi, bukan pula riuh karena bertengkar sama adik kelas yang belagu, tetapi riuh karena mendapat sebongkah berlian degan kemilau yang sempurna, gilaaa bisa kaya nih. Sayang, berlian yang mereka koar-koarkan bukan berlian sungguhan, melainkan  sosok murid baru yang ada diruang kepala sekolah pagi ini. Gag penting banget kan, kata mereka cowonya tuh memesona setiap wanita, karismatik memilikiperwajahan yang unikk.. kalo unikmah di musiumkan aja kalii. Hhehe map yee gag tertarik,mhakasi.
“kenapa muke loe kek gulungan kertas,, manyun gitu jellek kali, gag kusut aj jellek apa lagi kusut.”
Sapa Mirna yang lebih akrab dipanggil Iin.
“Ganjen bgt sih, sadar woiii aku ini cewe tulen gag usah di godai, sana tuh godai anak baru.”
“Cemburu yaa!”
“Apaan cemburu, yang ada tuh aku cemburunya ma kamu bukan diyaa.”
“Kok ma aku, ikhh risih deh dekat-deket ma kamu.”
“Habisnya perhatian kalian tuh berpusat ma tu cowo, kenal aja kaga,  aku nih butuh belas kasih kalian.”
Iin menatap nanar, memerhatikan Sofi lamat-lamat, mencoba menerka kejadian hebat apa yang menimpa sahabatnya, yang ditatap jadi salting.
“Woii kenapa natap aku kek menatap maling aj.”
“Maaf ya kemarin, kamu kethuan ya hampir kecelakaan kemarin, cowo itu ngaduh ya sama mama kamu, maaf sof, itu kan ide aku kemarin ngajak kamu jalan.”
“Akh apaan sih, gag ketahuan koq.”
“Trus apa donk kalau gag ketahuan?”
“Mamaku menerapkan program baru di keluargaku, Program PENGHEMATAN, uang jajanku dipotong 25%”
“Bagus donk, bukannya hemat pangkal kaya ya, artinya ntar kamu kaya donk, ingat aku ya ditraktir, brarti kita bisa keliling kelilinggg Indonesia, cobaa berbagai masakan bangsa kita, atau ke luar negeri ,, hmm kt juga bisa berwisata ditem……..” panjang lebar cerita gag ada berhentinyaaa hingga suara IIn terdengar sayup-sayup kala sosok yang ngetrend jadi buah bibir pagi ini memasuki kelas bersama seorang guru fisika, Pak Sumantri Tega, iya memeng namanya ada Teganya tp ia gag tega koq, mungkin masa kecilnya suka makan mentega. Hihihih maaf ya pak becanda. Next…  
                Tampaklah wanita-wanita dikelasku dengan perwajahan yang palsu, senyum dikit, kalem, sok manis. Akhh   palsu, mereka-mereka hanya bersandiwara aku mah apa adanya..hehetibalah cowo tirus itu memperkenalkan dirinya, dengan gagah iya berucap.

“Selamat Pagi.”
“ Waalaikummusallam warahmatullahi Wabarakatuh” teriakku dengan suara lantang. Jadilah aku trend center, para gadis dgn perwajahan tak enak menatpku penuh keramahann eeeh kemarahan maksudnya, cowo itu tampak keki, malu ma pak guru. Hahaha mana pesonamu perkenalan aja gak tau etika islam. Pak guru senyum dan berkata… 
“Silahkan dilanjut nak.” 
“Assalamu alaikum warahmahtullahi wabarakatuh.”
“Waalaikummusallam warahmatullahi Wabarakatuh.” Sejenak suasana kelas gaduh, hampir seisi kelas menjawab salam si Tirus (Tinggi Kurus), kecuali aku, ya kecuali aku.
“Menjawab salam dalam adab islam wajib kan pak?” bapak guru yang ditanya hanya berucap yaa degan sekali anggukan, dan isyarat tangan dikedepankan pertanda si Tirus kudu melanjutkan perkenalannya.”
“Hukumnya apa ya pak bagi orag yang menyarankan kebaikan sedang ia tidak melaksanakan.” Sebelum si Tirus melanjutkan ceritanya pak guru mengambil alih.   
“Baiklah anak-anak, tolong diperhatikan, hmmmm mengucapkan salam dan menjawab salam itu wajib.” Wandi kemudian berucap sebelum bapak guru meanjutkan ceramahnya.
“Siswa yang dipojok tidak menjawab Pak, padahal …” ia berhentii berucap
“Aku menjawab kok Pak, dalam hati.”
“Sudah-sudah, silahkan dilanjut perkenalannya.”
Spontan perwajahan manis yang tampak pada face aku berubah jd kasak kusuk karena hati yang grusa-grusu. Pelajaran fisika dimulai, tampak aku tak bersemangat padahal ini adalah salah satu pelajaran yang sangat saya sukai, sangat terbalik dengan teman-teman cewe lainnya yang menunjukan antipati pada pelajaran ini. Fisika membuatku bersemangat karena gurunya memang memberikan perhatian khusus padaku, entah karena bloonnya jadi mendapat perhatian khusus atau sekadar simpatik padaku karena guru fisika saya anaknya cowo semua, kali aja mau di jodohin yaa.. hehe. Pembelajaran berlangsung dengan pikiran yang kosong, wajah memelas, serasa hati terselimuti kabut hitam yang buat hariku gelap, galau tingkat dewa.
Pascagalau begini biasanya menyendiri adalah obat mujarab menurutku, bukannya tambah galau ya? Mertapi kesedihan sesuatu hal konyol, tapi itulah yang aku lakukan. Pulang sekolah aku memutuskan tuk berjalan kaki menyusuri pematang sawah yang hijau. Kalau sudah begini perasaan akan damai, sambil bercerita pada pepohonan disepanjang jalan, dedaunan yang bergoyang tertiup angin seolah bersorak padaku dan menyemangatiku. Itulah kebiasaanku, menganggap semua yang ada disekelilingku itu seolah hidup dan berkawan denganku. Kadang aku tersenyum pada mereka membiarkan imajiku menyusun suatu cerita klise, masih bermain imaji menyusun suatu kehidupan yang sempurna tak ada pelik, susah, yang ada hanya kesenangan kesenangan dan kesenangan. Sepanjang perjalanan kudapati beberapa orang yang mengenalku, bisik-bisik mereka terdengar sayup-sayup. “Itu kan anak toko kelontong,kok jalan kaki ya?” sesekali mereka melempar senyum padaku, aku balas dengan senyum yang pas, senyum yang tak memperlihatkan gigi putihku karaena jika terlihat akan kurang enak dipandang tak sesuai dengan hidungku yang mancung dan pipi tembemku, istilahnya sih kurang serasi, heheehe
*Bersambung

0 komentar:

Posting Komentar