Tahun ajaran baru menuntut semua
serba baru, sudah turun temurun smp rona jingga demikian keadaannya entah
fiosofi mana mereka pedomani, mungkin
saja itu ajaran nenek moyangnya dulu. Baju putih biru yang dipakai senin selasa
kudu diganti dengan yang baru, batik pun demikian, apalagi baju olahraga yang
wajib diganti tiap tahunnya. Karena adat istadat yang kudu dan wajib
dilaksanakan itu, jatah uang jajanku pun dipangkas ampe gundul ma mama pasalnya
pengeluaran tuk keperluan sekolah makin tinggi. Dengan muka mengerinyit
kemudian Sofi berkata
“Akhh mama gag asikkk bangettt, kok
pke dikurangi sih ma?” sambil menggaruk kepala yang gak gatal.
“Apanya yang gak asik sopi? Pan ntar
pake baju baru, bersih putih, putih bersih, kan nyaman dibadan. Klo gak suka ya
udah uang jajannya full tapi bajunya pake baju taun kemaren, gak ada nego harga
pas.”
“ haaaaaaaaaaa??? ……” mama berlalu
meninggalkan aku di meja makan dengan muka kek gulungan kertas yang hendak di
buang di tong sampah,, mmm gak gak, pasnya kek tomat bonyok yang dah membusukk.
Akh pilihan mama buatku gegagu Galau Gelisa Gundah Gulana. Kalau disuruh milih
cowo mah gag bakal gegegu begini lah
disuruh milih uang jajan dipangkas atw gag make baju. Eee gak pake seragam baru
maksdnya.
Pagi ini mama bener-bener berhasil
buatku bad mood. Mama gag tau apa tujuan utamaku sekolah tuh di SMP Rona Jingga
yaa tidak lain dan tidak bukan karena jajanan di sana sedap-sedap euy, klo pagi
tuh kita bisa sarapan dengan nasi kuning ditambah dua potong gorengan berisi
wortel n kentang pedas, dengan sambal buatan ibu kantin yang sedapnya ampe lupa
pelajaran fisika yang buat kepala berputar bag matahari yang sedang berotasi
mengelilingi bumi, akh lebayy.. hhehe mmm ada lagi nih di sela-sela pergantian
pelajaran tepatnya di samping musolah bersandarlah seorang bapak2 dengan topi
capingnya dan senyum lebar khasnya dan kumis sumringah menyapa anak-anak yang
ingin beli jajananya, siomay pak kumis. Ramah pisan euy bapaknya. Makan dua
bulatan sebesar kepalan hanya lima ratus perak ditambah saus kacang yang super
duper mantapp.. huaaalahhh jadi ngilerr.. murah banget khan siomaynya,, maklum
masih jaman batu, sponge Bob aja blom ada di tipi. Hehehe kalau bicara soal jajanan di sekolahku
tidak ada habisnya euy… kembali ke topik awal, masalah uang jajan, bayangin aja
uang jajan yang dikasi Cuma 2500perak, sudah termasuk PPNA yaitu pulang pergi
naik angkot. Hehe dua ribunya untuk mkan sampe jam 2 siang lagi belum lagi
kalao ada tugas mau di foto copy, pake dipangkas segalaa, akhhh yang bener aja
nih.
Dengan
berat hati, sofi beranjak dari meja makan menuju sekolah. Riuhnya kelas tak
mampu meredam kegalauan hati yang cukup mendalam, c’ilee baru aja gitu gimana
kalau diselingkuhi pacar eaa hehehe gimana mau diselingkuhi punya teman cowo aj
kaga, punya sih tp rata-rata sekong. Aduhaiiii.. pagi ini kelas bener-benar
gaduh, bukan karena persiapan upacara yang diadakan tiap senin pagi, bukan pula
riuh karena bertengkar sama adik kelas yang belagu, tetapi riuh karena mendapat
sebongkah berlian degan kemilau yang sempurna, gilaaa bisa kaya nih. Sayang,
berlian yang mereka koar-koarkan bukan berlian sungguhan, melainkan sosok murid baru yang ada diruang kepala
sekolah pagi ini. Gag penting banget kan, kata mereka cowonya tuh memesona
setiap wanita, karismatik memilikiperwajahan yang unikk.. kalo unikmah di
musiumkan aja kalii. Hhehe map yee gag tertarik,mhakasi.
“kenapa muke loe kek gulungan
kertas,, manyun gitu jellek kali, gag kusut aj jellek apa lagi kusut.”
Sapa Mirna yang lebih akrab
dipanggil Iin.
“Ganjen bgt sih, sadar woiii aku ini
cewe tulen gag usah di godai, sana tuh godai anak baru.”
“Cemburu yaa!”
“Apaan cemburu, yang ada tuh aku
cemburunya ma kamu bukan diyaa.”
“Kok ma aku, ikhh risih deh
dekat-deket ma kamu.”
“Habisnya perhatian kalian tuh
berpusat ma tu cowo, kenal aja kaga, aku
nih butuh belas kasih kalian.”
Iin menatap nanar, memerhatikan Sofi
lamat-lamat, mencoba menerka kejadian hebat apa yang menimpa sahabatnya, yang
ditatap jadi salting.
“Woii kenapa natap aku kek menatap
maling aj.”
“Maaf ya kemarin, kamu kethuan ya
hampir kecelakaan kemarin, cowo itu ngaduh ya sama mama kamu, maaf sof, itu kan
ide aku kemarin ngajak kamu jalan.”
“Akh apaan sih, gag ketahuan koq.”
“Trus apa donk kalau gag ketahuan?”
“Mamaku menerapkan program baru di
keluargaku, Program PENGHEMATAN, uang jajanku dipotong 25%”
“Bagus donk, bukannya hemat pangkal kaya ya, artinya ntar kamu kaya donk, ingat aku ya ditraktir, brarti kita bisa keliling kelilinggg Indonesia, cobaa berbagai masakan bangsa kita, atau ke luar negeri ,, hmm kt juga bisa berwisata ditem……..” panjang lebar cerita gag ada berhentinyaaa hingga suara IIn terdengar sayup-sayup kala sosok yang ngetrend jadi buah bibir pagi ini memasuki kelas bersama seorang guru fisika, Pak Sumantri Tega, iya memeng namanya ada Teganya tp ia gag tega koq, mungkin masa kecilnya suka makan mentega. Hihihih maaf ya pak becanda. Next…
“Bagus donk, bukannya hemat pangkal kaya ya, artinya ntar kamu kaya donk, ingat aku ya ditraktir, brarti kita bisa keliling kelilinggg Indonesia, cobaa berbagai masakan bangsa kita, atau ke luar negeri ,, hmm kt juga bisa berwisata ditem……..” panjang lebar cerita gag ada berhentinyaaa hingga suara IIn terdengar sayup-sayup kala sosok yang ngetrend jadi buah bibir pagi ini memasuki kelas bersama seorang guru fisika, Pak Sumantri Tega, iya memeng namanya ada Teganya tp ia gag tega koq, mungkin masa kecilnya suka makan mentega. Hihihih maaf ya pak becanda. Next…
Tampaklah
wanita-wanita dikelasku dengan perwajahan yang palsu, senyum dikit, kalem, sok
manis. Akhh palsu, mereka-mereka hanya
bersandiwara aku mah apa adanya..hehetibalah cowo tirus itu memperkenalkan
dirinya, dengan gagah iya berucap.
“Selamat Pagi.”
“ Waalaikummusallam warahmatullahi
Wabarakatuh” teriakku dengan suara lantang. Jadilah aku trend center, para
gadis dgn perwajahan tak enak menatpku penuh keramahann eeeh kemarahan
maksudnya, cowo itu tampak keki, malu ma pak guru. Hahaha mana pesonamu
perkenalan aja gak tau etika islam. Pak guru senyum dan berkata…
“Silahkan dilanjut nak.”
“Assalamu alaikum warahmahtullahi
wabarakatuh.”
“Waalaikummusallam warahmatullahi
Wabarakatuh.” Sejenak suasana kelas gaduh, hampir seisi kelas menjawab salam si
Tirus (Tinggi Kurus), kecuali aku, ya kecuali aku.
“Menjawab salam dalam adab islam
wajib kan pak?” bapak guru yang ditanya hanya berucap yaa degan sekali
anggukan, dan isyarat tangan dikedepankan pertanda si Tirus kudu melanjutkan
perkenalannya.”
“Hukumnya apa ya pak bagi orag yang
menyarankan kebaikan sedang ia tidak melaksanakan.” Sebelum si Tirus
melanjutkan ceritanya pak guru mengambil alih.
“Baiklah anak-anak, tolong
diperhatikan, hmmmm mengucapkan salam dan menjawab salam itu wajib.” Wandi
kemudian berucap sebelum bapak guru meanjutkan ceramahnya.
“Siswa yang dipojok tidak menjawab
Pak, padahal …” ia berhentii berucap
“Aku menjawab kok Pak, dalam hati.”
“Sudah-sudah, silahkan dilanjut
perkenalannya.”
Spontan perwajahan manis yang
tampak pada face aku berubah jd kasak kusuk karena hati yang grusa-grusu.
Pelajaran fisika dimulai, tampak aku tak bersemangat padahal ini adalah salah
satu pelajaran yang sangat saya sukai, sangat terbalik dengan teman-teman cewe lainnya
yang menunjukan antipati pada pelajaran ini. Fisika membuatku bersemangat
karena gurunya memang memberikan perhatian khusus padaku, entah karena bloonnya
jadi mendapat perhatian khusus atau sekadar simpatik padaku karena guru fisika
saya anaknya cowo semua, kali aja mau di jodohin yaa.. hehe. Pembelajaran
berlangsung dengan pikiran yang kosong, wajah memelas, serasa hati terselimuti
kabut hitam yang buat hariku gelap, galau tingkat dewa.
Pascagalau begini biasanya menyendiri adalah
obat mujarab menurutku, bukannya tambah galau ya? Mertapi kesedihan sesuatu hal
konyol, tapi itulah yang aku lakukan. Pulang sekolah aku memutuskan tuk berjalan
kaki menyusuri pematang sawah yang hijau. Kalau sudah begini perasaan akan
damai, sambil bercerita pada pepohonan disepanjang jalan, dedaunan yang
bergoyang tertiup angin seolah bersorak padaku dan menyemangatiku. Itulah
kebiasaanku, menganggap semua yang ada disekelilingku itu seolah hidup dan
berkawan denganku. Kadang aku tersenyum pada mereka membiarkan imajiku menyusun
suatu cerita klise, masih bermain imaji menyusun suatu kehidupan yang sempurna
tak ada pelik, susah, yang ada hanya kesenangan kesenangan dan kesenangan.
Sepanjang perjalanan kudapati beberapa orang yang mengenalku, bisik-bisik
mereka terdengar sayup-sayup. “Itu kan anak toko kelontong,kok jalan kaki ya?”
sesekali mereka melempar senyum padaku, aku balas dengan senyum yang pas,
senyum yang tak memperlihatkan gigi putihku karaena jika terlihat akan kurang
enak dipandang tak sesuai dengan hidungku yang mancung dan pipi tembemku,
istilahnya sih kurang serasi, heheehe
*Bersambung
*Bersambung

0 komentar:
Posting Komentar