Harusnya aku tak menjerumuskanmu
dalam duniaku. Kupikir kau akan cukup kuat dengan status berteman saja. Aku
tahu apa yang kau rasakan karena aku juga merasakannya. Kau tahu? Aku juga
sangat menikmati hari-hari bersamamu sehingga aku pun luput menjaga jarak
hatiku dan hatimu. Aku sadar aku salah, tak seharusnya sejauh itu mengenalmu.
Mungkin alasanmu menutup-nutupi perasanmu karena aku masih dengan kekasihku.
Aku tak mencintai kekasihku. Dia
yang mencintaiku membuatku berat untuk monolaknya. Andaikan kamu datang sebelum
dia, mungkin aku cukup kuat beralasan untuk menolaknya. Sayangnya kita baru
bertemu sekarang di sebuah kegiatan kampus. waktu yang cukup lama tuk
mengenalmu dan membuatku benar-benar menemukan perempuanku.
Pernah sekali waktu aku bertanya
padamu.
“Ketika ada seseorang lelaki
yang menyukaimu sekarang ini, apakah ada kemungkinan kamu menerimanya?
“ Mungkin aku akan menjawab,
terima kasih telah memilihku. Aku takut bermain-main dalam wilayah rasa, takut
akan menjadi dosa terindah dalam hidupku.”
Aku cukup paham maksudmu. Bagimu
pacaran hanyalah buang-buang waktu. Terkadang aku butuh berpikir keras tuk
memahami maksudmu. Buku-buku yang ada dalam kopermu terkadang membuatku pening
melihatnya. Kau ini mau melaksanakan tugas kampus atau sedang berdagang buku?
Aku tidak suka membaca itu intinya. Tapi aku suka melihat gerakan patah-patahmu
saat kau membaca, alismu, raut mukamu dan aku suka kacamatamu mungkin hal-hal
kecil itu yang membuat kamu diam-diam masuk ke alam bawah sadarku. Aku
mencintaimu Laila. Sungguh aku ingin kau menjadi perempuanku.
***
“Kita seharusnya tak duduk
berduaan di sini!”
“Kenapa? Karena aku harus
menghargai kekasihku?”
“Aku perempuan Dahlan, bagaimana
jika Riany datang dan menemui kita di sini. Aku hanya takut ia salah paham.”
“Kenapa harus takut kalau memang
tidak ada apa-apa?”
Kau selalu berhasil buat mulutku
terkunci Dahlan, selamat atas prestasimu. tapi sayang kau selalu gagal
menemukan hatiku karena kamu tak lebih dari seorang pecundang. Kau memang penuh
pesona, selain kecemerlangan dalam bidang teknologi, keramahan, pun tampangmu
memang memesona. Tapi itu malah membuatku muak dengan semuanya. Aku membencimu,
aku membencimu Dahlan aku tak meyukaimu karena kau menyukaiku dan kekasihmu
masih bersamamu. Aku membencimu.
***
Kau selalu saja peduli dengan
perasaan orang lain? Tapi bagaimana dengan perasanmu sendiri? Apa baik-baik
saja? Sepertinya tidak. Aku tahu itu Laila karena aku juga merasakan hal yang
sama. Aku sangat geram melihatmu sok bahagia dengan Aziz. Tertawa riang yang
sebenarnya kau buat-buat saja. Kau sedang tidak bahagia Laila. Aku tahu itu dan
aku pun sedang tak bahagia dengan kekasihku karena Tuhan telah mempertemukanku
dengan perempuanku mungkin itu alasannya.
Aku hanya kasihan dengan Aziz
mungkin juga cemburu. Tak lebih kau hanya menjadikannya sebuah pelampiasan atas
ketaksanggupanmu menutup-nutupi perasaanmu. Apa salahnya jika kau mengakui
bahwa kau juga memiliki perasaan yang sama denganku. Bagiku itu cukup buatku untuk
mempertahankan perasaan ini kelak aku akan memintamu baik-baik ketika Riany
telah paham bahwa dari awal hanya dia yang mencintaiku bukan aku. Kurasa ia
akan paham karena selama ini ia yang memintaku mencintainya bukan hatiku yang
memilihnya.
Kekasihku mungkin sadar atas
perasaanku padamu. Ia pernah bertanya hal perempuan yang kuingini. Mungkin ia
merasa bahwa ia bukanlah perempuanku.
“Perempuan yang mana lagi yang
harus kuingini, jika dihadapanku ini lebih baik dari yang lain.”
“Akh, kamu itu bisa saja buat
aku nahan amarah. Harusnya aku sudah ngamuk denganmu!”
“Loh, ada apa?” tanyaku skeptis.
“Abis klo kamu bicara dengan
Laila kamu semangat banget, binar mata mu sangat dalam ketika menatapnya,”
“Laila asyik sih diajak
ngobrol.”
“KAMU….” Aku menghentikan
kegiatanku di depan komputer. Mencoba menenangkan Riany dengan berbicara lebih
dekat dengannya. Aku memandangnya lekat-lekat, jauh di dalam matanya ia sangat
menyayangiku, masih sama ketika ia pertama kali mengenalku melalui sahabatnya
yang juga bersahabat denganku.
“Bukannya kamu juga begitu
dengan Laila. Aku juga terkadang cemburu melihatmu berbicara lama dengannya.”
“aku kan perempuan jadi ya gak
masalah.”
“Berarti kalau aku, akan jadi
masalah?”
“Iyalah masalah. Aku takut kamu
menyukainya!”
Pernyataan Riany membuatku
tercengang, serupa menelan buah pare. Pahit, tapi sedikit demi sedikit membuka
jalan tuk ia kembali dengan hati yang akan menerimanya tanpa meminta untuk
diterima. Aku sudah menyukainya Riany, kamu telat mencegahku, aku sudah menyukainnya,
maafkan aku.
“Terkadang jika kita takut
kehilangan sesuatu, maka kita akan kehilangan.”
“Apaan sih, kamu gak nyambung.
Ya sudah lanjutkan laporannya, besok Prof. Djumadi datang memantau.”
“Loh, kok baru bilang? Akh, kamu
selalu buatku keteteran.” Kamu berlalu dengan senyuman yang buatku tak tega
meninggalkanmu. Kamu masih takut kehilanganku, tatapanmu yang polos mungkin
menganggap perasaanku baik-baik saja padamu. Kau tidak pernah mengenalku Riany,
bahkan ketika aku mengiyakan bersamamu. Kau benar-benar tak mengenalku mungkin
karena ego hatimu yang terlalu ingin memilikiku.
***
“Dua hari lagi kebersamaan di posko ini akan
berakhir, tak akan berulang, tapi perasaanku mungkin akan tetap sama Laila.
Adakah sesuatu yang ingin kau ucapkan padaku?”
“Baik-baiklah dengan Riany!”
“Hanya itu?”
“Ya, mungkin hanya itu.”
“Aku pun tak akan memaksamu
mengakuinya. Setidaknya kata mungkin berarti masih ada cela bukan?”
“Maksud kamu?”
“Cela untuk perasaanku padamu.”
“Kamu selalu PD Dahlan, bahkan
urusan perasaan. Aku tak bisa membalas apa yang kau rasakan. Baik-baik dengan
Riany. Hanya itu dan tak pakai mungkin.”
“Baiklah, baik. Aku akan
baik-baik dengan Riany. Kamu juga baik-baik dengan Aziz jangan permainkan
perasaannya!”
Aku hanya mengangguk dan
tersenyum kemudian berlalu di hadapan Dahlan. Rasanya tak sanggup melihatnya
lebih lama dengan perasaan yang tertahan. Aku membencimu Dahlan. Aku membencimu
karena kau menyukaiku.
Perihal aku dan Aziz hanyalah
sebuah pertemanan. Dengan siapa lagi aku berbincang kalau bukan Aziz, Riany,
Kemal, Aden, dan kamu. Diantara semuanya, selain kamu, mungkin aku memang lebih
dekat dengan Aziz. Aziz sering bercerita kepadaku tentang perempuan yang
disukainya tetapi ia tak memiliki keberanian tuk berterus terang.
Kau membuatku pening setiap kau
membicarakan perasaanmu padaku. Selama tiga bulan aku mengenal Riany, ia baik
tak sepatutnya kau memiliki perasaan padaku. Sebenarnya kamulah yang sedang
mempermaikan perasaanmu. Bagaimana tidak, kamu bahkan mengakui tak mencintai
kekasihmu, tetapi kau menerimannya sebagai kekasih kemudian kamu mengakui kau
mencintaiku. Di mataku kau tak lebih dari seorang pecundang. Kuharap setelah
kegiatan ini berakhir, perasaanmu pun akan sama. Sama seperti kisah Kemal yang
bermula pada pertemuan pertama dengan Siska dan berakhir pada upacara pelepasan
kegiatan ini. Bagiku itu bukan cinta melainkan keinginan hati yang bernama ego.
Aku takut yang kurasakan padamu sama seperti Siska mantan kekasih Kemal dan aku
tak bisa menjanjikan apa-apa perihal perasaan kepadamu.
***
Sudah dua tahun setelah acara
pelepasan kegiatan kampus itu usai. Barangkali kau benar-benar mengabaikan
perasaanku. Seperti yang kau minta aku menjalaninya dengan baik-baik bersama
Riany, tetapi rasanya semakin sakit karena perasaanku masih sama. Riany masih
tetap saja menjadi kekasihku tapi ia tak bisa menjadi perempuanku.
Tahukah kamu yang terjadi
menjelang aku menyelesaikan tugas akhirku? Kamu tidak tahu bukan? Karena kita
sudah tak saling berkabar lagi. Kamu terlalu angkuh untuk sekadar menyapaku meski
lewat sms, atau jejaring sosial. Bukan aku yang menemukan surat yang kau selip
dalam ranselku. Bukan aku Laila! Riany yang menemukannya hingga ia marah tak
alang-kepalang. Terjawab sudah seluruh kecurigan-kecurigaannya padaku. Pada
akhirnya yang kamu takutkan pun terjadi. Mungkin Riany sangat membencimu.
“Akan
kuberitahu bagaimana aku mencintaimu. Menjauhlah dariku! Aku akan menjaga perasaanku untukmu. Kelak ketika
kamu sanggup mintalah aku dengan cara baik-baik lalu aku akan datang membawa
segala yang kupunya untukmu, tak akan bersisa. Aku akan selalu ada di
belakangmu ke mana pun kau mengarahkan perahumu, sekeras apapun ombak
menghantammu, aku akan tetap berdiri di belakangmu, bersamamu! Seperti itulah
caraku mencintaimu. Aku pun takut jika kau menjadikanku perempuanmu dan
ternyata kau rindu dengan kekasimu ataukah kau menjadikanku kekasihmu tetapi
kau masih mencari perempuanmu seperti halnya Riany kekasihmu ”
Berkali-kali kubaca suratmu,
berkali-kali pula aku tertampar oleh kata-katamu. Sudah bertahun-tahun aku
menjalaninya dengan Riany, tetapi aku juga tak berani mengakhirinya. Pikirku ia
akan sabar menantiku hingga hatiku benar-benar menerimanya. Ternyata tidak!
hatiku tak pernah menerima Riany hingga suratmu membuat hubunganku dengannya
berakhir. Mungkin Riany sangat membencimu.
Aku pun takkan memintamu lagi.
seperti katamu jangan-jangan yang kurasakan bukanlah cinta hanya saja keinginan
hati yaitu ego memilikimu yang terlalu kupertuankan. Jika memang aku dan kamu
adalah takdir kelak kamu akan datang tanpa aku meminta untuk diterima. Semoga
saja!