RSS

Kabut Hati



Entah dari mana pikiran bunda bermula. Ide yang sangat membuatku panik dan syok stadium akhir. Mendengar percakapan singkat lewat telepon perihal kepindahanku ke pesantren. Kesalahan apa yang telah kuperbuat, ini sudah pertengahan Ramadan, sekolah sudah diliburkan kecuali pesantren yang sibuk dengan segudang aktivitas. Mondok kata itu yang buatku sangat terpukul. “Mondok di pesantren.” kata itu selalu ada kaitannya dengan nasi rantang, diantar tepat waktu, makanan yang terjadwal, dengan masakan yang itu-itu saja. Akh bunda tega sekali membuangku di pondokan.
“Aku tidak mau mondok Bun!” Pintaku langsung ke pokok persoalan.
“Supaya kamu lebih mendalami agama sayang.”
“Akh, bunda sudah kelewatan, MONDOK sama dengan PENJARA.”
“Itu pandangan kamu saja sayang, MONDOK belajar disiplin, Jangan ngebantah!”
Selalu begitu, seolah aku hidup bagaikan boneka yang sisa diputar kuncinya, sudah akan nurut. “Jangan ngebantah!” kata itu selalu sempurna mengkunci mulutku hingga berakhir gerutu yang panjang dalam hati. akh bunda, apa salahnya sih sekolah di sekolah negeri, berkelas, olimpiade fisikaku apa belum cukup ngebuktiin kalau aku bisa diandalkan, Mondok sama dengan PENJARA. PESANTREN akh kata itu sempurna buatku ciut ketika bertemu dengan teman-teman nantinya. Bayangin aja tinggal di suatu wilayah yang jauh dari rumah penduduk, dikelilingi pepohonan semacam hutan yang tak pernah terjamah. Pagar yang tinggi menjulang tak ada cela tuk lari, tak ada cela berlehai-lehai, televisi? jangan ditanya cuma ada satu itu pun disimpan di kamar Ustazah penjaga pondokan. Pikiran-pikiran dan selintas bayangan mondok di pesanten seolah mencekik tiap detiknya hingga aku lelah dan terbawa dalam mimpi yang membayang muram.
***
Waktu meroket, belingsatan menuju hari pertama aku mondok. Aku paham betul yang namanya permulaan pertemuan, canggung dan kaku adalah bahasa tubuh yang entah mengapa selalu menjadi awal dari pertemuan dengan bumbu-bumbu senyum tipis dan sedikit keramahan yang dibuat-buat. Sama sekali bukan aku. Kulihat di sekeliling. Tak ada yang menarik, kecuali satu yang tertangkap oleh mataku, rumah pohon.
Sentuhan ibu membuyarkan lamunanku dan mengalihkan pandanganku.
“Sayang, selama seminggu kamu akan mondok di pesantren ini, pergunakan waktumu sebaik-baiknya, ini sudah pertengan ramadan.”
Hanya anggukan tanda tak ikhlas mondok. Melawan? Ini bulan suci, dia ibuku satu-satunya yang aku miliki. Ngebantah? Kasian sedari dulu dia bekerja untuk menghidupiku dan saudara-saudaraku. Nurut? Pilihan yang tepat meski sebenarnya nyiksa diri. Senja kali ini kelihatan muram, semburat rona jingga hampir tersaput awan hitam. Lihatlah langit seolah turut berduka atas hati yang tak kunjung menemui cahaya.
Pesantren tak seburuk pikiran yang membayang dibenakku. “Penjara?” Aku berdelik ketika kata itu disebut-sebut penceramah yang merupakan teman sebaya. “Pesantren merupakan penjara bagi sebagian orang memang betul, penjara, Penjaga Jarak antara akhwat dan ikhwat, penjara, penjaga jarak dari hal-hal buruk …”  Seolah ia mampu membaca tatapanku meski penjara dengan pemahaman yang berbeda.
Usai tarawih Ustaz Farid mengumumkan pelaksanaan salat tasbih pukul 02.00, setiap santri diharapkan tidur lebih awal. “Semua serba terjadwal.” Gumamku. Aku bergegas menuju asrama, langkahku terhenti di pembelokan terakhir. Mataku berfokus pada rumah pohon. Tanpa harus menghitung kancing baju, segera aku melangkah dan secepat kilat aku sudah tiba di atas rumah pohon. Mataku bagai petromaks mengintari seluruh ruangan yang terbilang sempit. Banyak foto-foto kegiatan santri, buku-buku yang tersusun apik dalam rak, lampu agak redup, kipas angin gantung yang bisingnya mengalahkan baling-baling pesawat, dan karpet merah yang merahnya mengalahkan cahaya lampu.
“Ada keperluan apa di tempat ini?”
Pertanyaan itu membuatku gelagapan. Tubuhku kaku diguyur keringat persis pencuri yang ketangkap basah maling ayam dan diam adalah jawaban.
“Aku Furqon ketua OSIS di Pesantren ini.”
Aku hanya mengangguk, menundukkan pandangan dan berlalu. Furqon yang tadi membawakan ceramah. Pertemuan pertama selalu diawali dengan bahasa tubuh yang canggung dan kaku. Selalu begitu.
Inilah malam terpanjang yang harus kulewati, malam dengan desahan nafas tertahan, malam dengan isakan tangis, dan malam atas rasa bersalah telah mengutuki pesantren. Bercampur aduk menggaruk-garuk hati dari tebalnya kabut yang menghijab hati menghadang segala cahaya-Mu hingga mata mengatup meski hati tetap mengeram dalam tanya.
Sebuah surat kuterima dari teman sekamarku Fitri. Perlahan kubuka amplop merah jambu yang membungkus secarik kertas.
“Miftah Jannatul Ma’wa, namamu adalah salah satu dari pintu surga maka jadilah surga dalam dirimu
Surga ketiga dan kamu adalah anak ketiga, sungguh jangan menyiksa dirimu sendiri
Surga ketiga yang terbuat dari Zabarjud Hijau, sungguh jadikanlah hatimu kediaman surgamu
Mahabenar janji Allah atas firmannya:
"Adapun orang - orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh. maka bagi mereka mendapat surga - surga tempat kediaman, merupakan pahala pada apa yang telah mereka:kerjakan". (An Naazi'aat: 41)
Lapangkanlah hatimu, waktu adalah sebaik-baik pengobat pilu.”
                                                                                                                                    Furqon
Tak ada lagi kata yang mampu terucap dibibir hanya air mata yang menganak sungai. Terlintas wajah kebas bunda yang lelah atas perilakuku. Hati ini berserah pada-Mu, melarungkan diri dalam tasbih hingga pagi datang membuka harapan baru.


#Cerpen yang belum lolos ke media :'( 
Kamis, 25Juli13
fiGhting! :D

"SETELAH DIMILIKI, TAK LAGI INDAH"

Yang tinggal di gunung, merindukan pantai.
Yang tinggal di pantai, merindukan gunung.

Di musim kemarau merindukan musim hujan.
Di musim hujan merindukan musim kemarau.

Yang berambut hitam mengaggumi yang pirang
Yang berambut pirang mengaggumi yang hitam.

Diam di rumah merindukan bepergian.
Setelah bepergian merindukan rumah.

Waktu tenang mencari keramaian.
Waktu ramai, mencari ketenangan.

Kita tidak pernah bahagia sebab segala sesuatu tampak indah hanya sebelum dimiliki. Namun setelah dimiliki tidak lagi indah...

Lalu, kapankah kebahagiaan akan didapatkan kalau kita hanya selalu memikirkan apa yang belum ada, namun mengabaikan apa yang sudah dimiliki?

SYUKURI apa yang ada, karena hidup adalah anugreah bagi jiwa-jiwa yang ikhlas.

#Anne Ahira

Beo

Beo yang meraung-raung di rumah tetangga
Menyaingi azan yang merdu
Beo masih dengan lidah kebasnya
Dengan riang menyambut Magrib yang terdengar sendu
                                                     Mks (kost), 3 Juli 2013

???

Sungguh masih dengan tanya
Sampai kapan kau meratapi
Menggeliat dalam ranjang
Menarik selimut
Mengutuki malam

Masih dengan sepotong hati yang basah
Sisa tangis semalam
Bertanya, mengutuk dengan gerutu
Segala yang menyilau pandang

Sungguh masih dengan tanya
Kapan pemahaman baik itu datang?
Datang menyilau hati
Menjadikannya indah dalam damai

Sungguh masih dengan tanya
Dalam doa yang mengulum asa
Asa yang terpendam hinggah, entah!

                                                 Mks (kost) , Rabu 3 Juli 2013

Hujan di Awal Juli





Hujan di awal Juli
Tak deras hanya desahan-desahan sendu
Hujan di awal Juli
Langit Nampak putih kelabu
Menerjemah kisah yang kau pertuankan
Menyibak euforia angan-anganmu
Hujan di awal Juli
Semoga jadi berkah yang nyata
Menanti euforia syukur
Hujan di awal Juli mendatang dengan pelanginya

Harapan Senja

       Senja hari ini kelihatan muram. Kehadiran jingga tak menjanjikan. apakah yang engkau lakukan ketika harapan-harapan kamu akan lebur bersama senja sore ini? Apakah kamu akan kehilangan ronamu? seperti Jingga yang tenggelam di kaki cakrawala terbawa arus senja yang membuka malam kelam?. Gadis itu masih dengan seribu pertanyaan tentang masa depannya, impiannya, dan harapan yang telah di susun setahun silam. Wajahnya sendu sudah seminggu beban pikirannya masih itu itu saja. 
"Harusnya aku tak tergesa-gesa, seharusnya aku tak mengatakannya, terlalu hina." potongan makian untuk diri sendiri mungkin akan sedikit meredakan emosi kemudian disertai isak tangiss pilu.

"Apakah dengan tangis semua akan selesai?" Hening, terdengar suara yang sepertinya sangat membenci suara tangis. Lelaki itu bernama Ahmad Harapan lebih akrab disapa Afan. wajahnya tirus dengan hidung mancung mata bulat dilengkapi bulu mata lentik, sangat kompleks untuk wanita. Zaynah terkadang merasa minder ketika harus bepergian denganya, sosok sahabat yang memiliki tubuh ideal yang disukai banyak wanita. Afan menjulurkan tisu.
"Kamu masih memikirkan dia?"
Afan cukup mengerti ketika Zaynah tak menjawab pertanyaannya.
"Sudahlah, Kamu tau wanita yang cantik itu akan tampak cantik mesikupun hatinya sedang menangis, akh kamu tuh gak ada cantik-cantiknya, biar kata berhenti menangis akan tetap sama GAK CANTIK!" hahahhahaha. Afan dengan tawanya meski dibuat-buat sedikit meredakan sendu di mata Zaynah, ia tersenyum. 
"Aku telah melakukan kesalahan besar."
"Pengakuan yang ke-108."
"Akh, kamu selalu begitu, sudah tau mataku sembab masih aja becanda."
"Emang bener kan yang keserat....." belum sempat melanjutkan perkataannya tiba-tiba Afan ditimpuk tisu bekas usapan air mata Zaynah.
"Asin tau, udah baik aku ke sini." 
"Iya, iya, maaf. Fan, kemarin aku bertemu dengannya, bukan hanya aku dan dia, kami berkumpul dengan teman-teman studi yang lain. Acara reuni."
"Apa yang terjadi di sana? sepertinya kejadian di sana yang membuatmu betah berlama-lama di pantai ini."
Afan menatap Zaynah sangat dalam sedang yang di tatap hanya bercerita sambil menatap lamat-lamat senja yang mulai matang.
"Sepertinya teman-temanku telah membaca perasaanku selama ini, sikapku yang mungkin ganjil di mata mereka, tetapi aku masih bersifat hipokrit. Aku wanita sebesar apapun rasa yang tersimpan rapi dalam hati ini tak mungkin aku umbar. Kemarin ceritanya lain aku tidak menyimpan perasaan itu, dan bukan hanya dia yang tahu kebenarannya, melainkan teman-teman yang lain juga menyaksikan kebenaran itu." Zayna berbalik menatap Afan yang ditatap hanya membuang pandangan.
"Aku merasa terlalu hina dengan diriku, sangat memalukan, bahkan angin kala itu sangat berbeda, tatapan-tatapan yang menyorotiku seolah ingin menelanku, sahabatku Lira yang telah menyukainya sejak berada di lokasi pun punya sikap berbeda kepadaku. Aku salah Fan."
"Trus, apa ekspresi dia?"
"Dia hanya melanjutkan makan, tak ada ekspresi yang berarti, mungkin pengakuanku terasa hambar."
"Hahahhahaaa, Zaynah ada pepatah yang mengatakan Kalau cinta mulai diumbar maka akan terasa hambar."
 Sempurna 47 detik yang memesona sunset tenggelam di kaki cakrawala menenggelamkan cerita-cerita Zaynah, azan magrib pun berkumandang.
                                                                             ***
          Mungkin yang kau rasakan senja tadi sama seperti yang kurasakan. Pengakuan-pengakuanmu tentang lelaki itu sangat menyakitkan. Bedanya kau mengungkap, menumpahkan segala perasaamu padanya, bahkan disaksikan oleh teman-temanmu sedang saya hanya berani menyimpannya, merawatnya, dan menunggu waktu itu tiba. Entah kau paham atau tidak, caraku memandangmu sangat berbeda dengan caraku memandang wanita lain. Meskipun parasmu tidak terlalu cantik, entah kecantikan apa yang ada pada dirimu sedang memabukkan ku, menengelamkanku dalam kisah yang tak menemui ujung pangkal karena ikatan persahabatan. Aku menyukaimu Zaynah, aku menyukai matamu yang sederhana dengan tatapan yang tulus dari hatimu yang membuat orang menatapnya sungguh luar biasa. Aku menyukaimu, aku menyukaimu.Sebuah pengakuan yang disaksikan oleh hujan yang seolah berubah menjadi salju, petir yang menyambar seolah berubah menjadi alunan violin yang biasa kau mainkan Zaynah. Aku mencintaimu Zaynah.
                                                                            ***

"Sudah lama menunggu?, maaf tadi harus mengurus siswa privat ku, besok ia ada lomba puisi." Afan yang belum melihat kehadirannya, Zaynah pun sudah panjang lebar menjelaskan.
"Setengah jam aku menunggumu, gak masalah ini pertemuan terakhir setelah melawati hari yang panjang aku akan menemuimu kembali."
"Akh kamu bicara apa sih. Bagaimana dengan studimu? kamu jadi ke Jogja?"
"Afan, koq diam? jawab kek apa kek, komen kek?" Sambil mematuk-matuk kripik kentang tanpa membagi Afan.
"Cerewet amat udah move oN? cinta bertepuk sebelah tangan, ahhahaahha." Merebut sebungkus keripik kentang. 
"Kamu tuh klo udah dapet kripik kentang asin rasa bawang, semuanya dilupakan, bahkan aku tak ditawari, kalau gak direbut gak bakalan kebagian."
Zaynah tersedak percikan air yang keluar dari mulutnya membasahi jilbabnya.
"Bagaimana dengan studimu?"
"Bagaimana dengan pria itu?" Zaynah paham betul ketika Afan menjawab pertanyaannya dengan pertanyaan.
"Ok ok. gag ada apa-apa, semua mengalir seperti biasa, kadang ia nelpon, cuma bertukar kabar. Dia di luar kota sekarang sedang bekerja di sebuah perusahaan."
"Kamu masih mencintainya.?"
"Kamu kok berubah jadi kepo gini, sejak kapan, sejak kapan?"
"Kamu masih mencintainya?" Tak sepantasnya aku menanyakan hal ini, tapi senja hari ini mengharuskanku mempertanyakannya.
"Kenapa? tumben menanyakan hal itu."
"Kamu masih mencintainya?"
"Mmmm, entahlah.. rasa itu perlahan redup, bukan berati ia telah hilang. Cuma redup mungkin ia mulai bosan dengan permainan waktu. Sekarang giliranmu!"
"Aku diterima Zaynah, studiku akan lanjut meraih master."
"Alhamdulillh, kamu memang pantas mendapatkannya, sayang kan kalau IPK 3,97 disiasiakan oleh pemerintah. Bagaimana dengan wanitamu?"
"Wanitaku?" Pertanyaan Zayna seolah menghentikan waktu, nyiur yang tadinya melambai bersorak-sorak dipermainkan angin seolah berhenti. Deburan ombak yang bergemuruh seolah berbalik arah.
"Iya, Wanitamu yang maya itu, semu."
"Aku tidak akan mengungkapkannya."
"Payah, kamu kan lelaki harusnya siap dengan segala keputusan wanita maya mu itu."
"Aku hanya menunggu waktu yang baik Zaynah, mungkin dua atau tiga tahun lagi aku akan menemuinya kembali di tempat ini."
"Umurmu sudah terlalu tua tuk pacaran." Zaynah meledek.
"Aku tidak akan memintanya tuk jadi pacarku, aku ingin meminangnya Zaynah."
Zaynah menatap Afan lamat-lamat, perkataannya tak sedikitpun bercanda. Ia masih menatap sedang yang ditatap hanya tersenyum getir. Ada yang bergejolak dalam hati Zaynah, ia tak paham, ia tak mengerti apa yang sedang dirasakannya.
"Kamu benar-benar menyukai waniat maya mu, bahkan kau jarang bertemu denganya. Aku salut padamu Fan."
"Lusa aku akan berangkat."
"Aku akan merindukanmu, Fan."
 Aku juga akan sangat merindukanmu Zaynah, meski kau tak paham tatapanku yang sangat berbeda dengan caraku menatap wanita lain, dua atau tiga tahun ke depan aku akan kembali menemuimu di tempat ini, janjiku.
 
 





Aku Masih Jatuh Cinta

Aku jatuh cinta pada rangkaian kata yang kau susun di setiap ucapmu
Aku jatuh cinta pada kedua tanganmu yang begitu lembut memberi uluran
Aku jatuh cinta pada kedua alismu yang berkerut kala kecewa
Aku jatuh cinta pada senyummu yang mengukir keikhlasan

Ada kisah di setiap jejakmu meski bukan aku
Ada rindu di kedua bola matamu meski bukan aku
Ada asa di setiap tatap yang berbinar meski bukan aku
Ada cinta di setiap diammu meski bukan aku

Aku masih jatuh cinta meski kutahu aku bukan cinta

Aku masih jatuh cinta pada kedua bola matamu
Mengapa?
Karena kala aku menatap ada bayangku di kedua bola mata itu
Mengapa kau begitu yakin? tanyamu skeptis
Karena caraku mencintaimu beralasan
Aku mencintaimu bermula dari hal sederhana
Mata, kedua tangan, alis, dan senyummu, jejakmu, tatapanmu
Bermula menari di pikiran setiap harinya
Kemudian ia melekat dalam hati dan tertanam kuat setiap kali kau menatapku

Aku masih jatuh cinta meski kutahu cinta itu bukan aku.

Kontradiktif

Tahun ajaran baru menuntut semua serba baru, sudah turun temurun smp rona jingga demikian keadaannya entah fiosofi  mana mereka pedomani, mungkin saja itu ajaran nenek moyangnya dulu. Baju putih biru yang dipakai senin selasa kudu diganti dengan yang baru, batik pun demikian, apalagi baju olahraga yang wajib diganti tiap tahunnya. Karena adat istadat yang kudu dan wajib dilaksanakan itu, jatah uang jajanku pun dipangkas ampe gundul ma mama pasalnya pengeluaran tuk keperluan sekolah makin tinggi. Dengan muka mengerinyit kemudian Sofi berkata
“Akhh mama gag asikkk bangettt, kok pke dikurangi sih ma?” sambil menggaruk kepala yang gak gatal.
“Apanya yang gak asik sopi? Pan ntar pake baju baru, bersih putih, putih bersih, kan nyaman dibadan. Klo gak suka ya udah uang jajannya full tapi bajunya pake baju taun kemaren, gak ada nego harga pas.”
“ haaaaaaaaaaa??? ……” mama berlalu meninggalkan aku di meja makan dengan muka kek gulungan kertas yang hendak di buang di tong sampah,, mmm gak gak, pasnya kek tomat bonyok yang dah membusukk. Akh pilihan mama buatku gegagu Galau Gelisa Gundah Gulana. Kalau disuruh milih cowo mah gag bakal gegegu begini  lah disuruh milih uang jajan dipangkas atw gag make baju. Eee gak pake seragam baru maksdnya.
Pagi ini mama bener-bener berhasil buatku bad mood. Mama gag tau apa tujuan utamaku sekolah tuh di SMP Rona Jingga yaa tidak lain dan tidak bukan karena jajanan di sana sedap-sedap euy, klo pagi tuh kita bisa sarapan dengan nasi kuning ditambah dua potong gorengan berisi wortel n kentang pedas, dengan sambal buatan ibu kantin yang sedapnya ampe lupa pelajaran fisika yang buat kepala berputar bag matahari yang sedang berotasi mengelilingi bumi, akh lebayy.. hhehe mmm ada lagi nih di sela-sela pergantian pelajaran tepatnya di samping musolah bersandarlah seorang bapak2 dengan topi capingnya dan senyum lebar khasnya dan kumis sumringah menyapa anak-anak yang ingin beli jajananya, siomay pak kumis. Ramah pisan euy bapaknya. Makan dua bulatan sebesar kepalan hanya lima ratus perak ditambah saus kacang yang super duper mantapp.. huaaalahhh jadi ngilerr.. murah banget khan siomaynya,, maklum masih jaman batu, sponge Bob aja blom ada di tipi.  Hehehe kalau bicara soal jajanan di sekolahku tidak ada habisnya euy… kembali ke topik awal, masalah uang jajan, bayangin aja uang jajan yang dikasi Cuma 2500perak, sudah termasuk PPNA yaitu pulang pergi naik angkot. Hehe dua ribunya untuk mkan sampe jam 2 siang lagi belum lagi kalao ada tugas mau di foto copy, pake dipangkas segalaa, akhhh yang bener aja nih.
                Dengan berat hati, sofi beranjak dari meja makan menuju sekolah. Riuhnya kelas tak mampu meredam kegalauan hati yang cukup mendalam, c’ilee baru aja gitu gimana kalau diselingkuhi pacar eaa hehehe gimana mau diselingkuhi punya teman cowo aj kaga, punya sih tp rata-rata sekong. Aduhaiiii.. pagi ini kelas bener-benar gaduh, bukan karena persiapan upacara yang diadakan tiap senin pagi, bukan pula riuh karena bertengkar sama adik kelas yang belagu, tetapi riuh karena mendapat sebongkah berlian degan kemilau yang sempurna, gilaaa bisa kaya nih. Sayang, berlian yang mereka koar-koarkan bukan berlian sungguhan, melainkan  sosok murid baru yang ada diruang kepala sekolah pagi ini. Gag penting banget kan, kata mereka cowonya tuh memesona setiap wanita, karismatik memilikiperwajahan yang unikk.. kalo unikmah di musiumkan aja kalii. Hhehe map yee gag tertarik,mhakasi.
“kenapa muke loe kek gulungan kertas,, manyun gitu jellek kali, gag kusut aj jellek apa lagi kusut.”
Sapa Mirna yang lebih akrab dipanggil Iin.
“Ganjen bgt sih, sadar woiii aku ini cewe tulen gag usah di godai, sana tuh godai anak baru.”
“Cemburu yaa!”
“Apaan cemburu, yang ada tuh aku cemburunya ma kamu bukan diyaa.”
“Kok ma aku, ikhh risih deh dekat-deket ma kamu.”
“Habisnya perhatian kalian tuh berpusat ma tu cowo, kenal aja kaga,  aku nih butuh belas kasih kalian.”
Iin menatap nanar, memerhatikan Sofi lamat-lamat, mencoba menerka kejadian hebat apa yang menimpa sahabatnya, yang ditatap jadi salting.
“Woii kenapa natap aku kek menatap maling aj.”
“Maaf ya kemarin, kamu kethuan ya hampir kecelakaan kemarin, cowo itu ngaduh ya sama mama kamu, maaf sof, itu kan ide aku kemarin ngajak kamu jalan.”
“Akh apaan sih, gag ketahuan koq.”
“Trus apa donk kalau gag ketahuan?”
“Mamaku menerapkan program baru di keluargaku, Program PENGHEMATAN, uang jajanku dipotong 25%”
“Bagus donk, bukannya hemat pangkal kaya ya, artinya ntar kamu kaya donk, ingat aku ya ditraktir, brarti kita bisa keliling kelilinggg Indonesia, cobaa berbagai masakan bangsa kita, atau ke luar negeri ,, hmm kt juga bisa berwisata ditem……..” panjang lebar cerita gag ada berhentinyaaa hingga suara IIn terdengar sayup-sayup kala sosok yang ngetrend jadi buah bibir pagi ini memasuki kelas bersama seorang guru fisika, Pak Sumantri Tega, iya memeng namanya ada Teganya tp ia gag tega koq, mungkin masa kecilnya suka makan mentega. Hihihih maaf ya pak becanda. Next…  
                Tampaklah wanita-wanita dikelasku dengan perwajahan yang palsu, senyum dikit, kalem, sok manis. Akhh   palsu, mereka-mereka hanya bersandiwara aku mah apa adanya..hehetibalah cowo tirus itu memperkenalkan dirinya, dengan gagah iya berucap.

“Selamat Pagi.”
“ Waalaikummusallam warahmatullahi Wabarakatuh” teriakku dengan suara lantang. Jadilah aku trend center, para gadis dgn perwajahan tak enak menatpku penuh keramahann eeeh kemarahan maksudnya, cowo itu tampak keki, malu ma pak guru. Hahaha mana pesonamu perkenalan aja gak tau etika islam. Pak guru senyum dan berkata… 
“Silahkan dilanjut nak.” 
“Assalamu alaikum warahmahtullahi wabarakatuh.”
“Waalaikummusallam warahmatullahi Wabarakatuh.” Sejenak suasana kelas gaduh, hampir seisi kelas menjawab salam si Tirus (Tinggi Kurus), kecuali aku, ya kecuali aku.
“Menjawab salam dalam adab islam wajib kan pak?” bapak guru yang ditanya hanya berucap yaa degan sekali anggukan, dan isyarat tangan dikedepankan pertanda si Tirus kudu melanjutkan perkenalannya.”
“Hukumnya apa ya pak bagi orag yang menyarankan kebaikan sedang ia tidak melaksanakan.” Sebelum si Tirus melanjutkan ceritanya pak guru mengambil alih.   
“Baiklah anak-anak, tolong diperhatikan, hmmmm mengucapkan salam dan menjawab salam itu wajib.” Wandi kemudian berucap sebelum bapak guru meanjutkan ceramahnya.
“Siswa yang dipojok tidak menjawab Pak, padahal …” ia berhentii berucap
“Aku menjawab kok Pak, dalam hati.”
“Sudah-sudah, silahkan dilanjut perkenalannya.”
Spontan perwajahan manis yang tampak pada face aku berubah jd kasak kusuk karena hati yang grusa-grusu. Pelajaran fisika dimulai, tampak aku tak bersemangat padahal ini adalah salah satu pelajaran yang sangat saya sukai, sangat terbalik dengan teman-teman cewe lainnya yang menunjukan antipati pada pelajaran ini. Fisika membuatku bersemangat karena gurunya memang memberikan perhatian khusus padaku, entah karena bloonnya jadi mendapat perhatian khusus atau sekadar simpatik padaku karena guru fisika saya anaknya cowo semua, kali aja mau di jodohin yaa.. hehe. Pembelajaran berlangsung dengan pikiran yang kosong, wajah memelas, serasa hati terselimuti kabut hitam yang buat hariku gelap, galau tingkat dewa.
Pascagalau begini biasanya menyendiri adalah obat mujarab menurutku, bukannya tambah galau ya? Mertapi kesedihan sesuatu hal konyol, tapi itulah yang aku lakukan. Pulang sekolah aku memutuskan tuk berjalan kaki menyusuri pematang sawah yang hijau. Kalau sudah begini perasaan akan damai, sambil bercerita pada pepohonan disepanjang jalan, dedaunan yang bergoyang tertiup angin seolah bersorak padaku dan menyemangatiku. Itulah kebiasaanku, menganggap semua yang ada disekelilingku itu seolah hidup dan berkawan denganku. Kadang aku tersenyum pada mereka membiarkan imajiku menyusun suatu cerita klise, masih bermain imaji menyusun suatu kehidupan yang sempurna tak ada pelik, susah, yang ada hanya kesenangan kesenangan dan kesenangan. Sepanjang perjalanan kudapati beberapa orang yang mengenalku, bisik-bisik mereka terdengar sayup-sayup. “Itu kan anak toko kelontong,kok jalan kaki ya?” sesekali mereka melempar senyum padaku, aku balas dengan senyum yang pas, senyum yang tak memperlihatkan gigi putihku karaena jika terlihat akan kurang enak dipandang tak sesuai dengan hidungku yang mancung dan pipi tembemku, istilahnya sih kurang serasi, heheehe
*Bersambung

CONTOH PROPOSAL KEGIATAN SEKOLAH

Proposal Kegiatan Sekolah
Pekan Olah Raga dan Seni (Porseni)
A. Dasar Pemikiran
Upaya peningkatan mutu pendidikan merupakan suatu kegiatan yang tidak pernah lepas dari perhatian Kita semua , oleh karena itu perlu adanya strategi yang tepat untuk melaksanakannya . salah satu program yang akan dilaksanakan oleh Osis Sma negeri 1 bulukumba berkenan dalam hal ini yakni pekan olahraga dan seni (Porseni).
Secara umum manfaat pendidikan pekan Olahraga dan seni bagi peserta didik adalah untuk membentuk potensi diri dan kebersamaan setiap individu dalam melakukan suatu kegiatan yang bersifat positif .
Sehingga kami sadar bahwa pekan olaharaga dan seni (Porseni), juga perlu dilaksanakan demi meningkatkan potensi akademik maupun non akademik bagi Pelajar itu sendiri.
B. Maksud dan Tujuan
Pelaksanaan kegiatan pendidikan pekan olahraga dan seni, (Porseni) dimaksudkan untuk mencetak dan menghasilkan calon penerus bangsa yang berdedikasi tinggi dengan segenap kemampuan dan keterampilannya.
C. Kegiatan dan Tema Kegiatan
Dalam kegiatan ini, merupakan kegiatan olahraga dan seni yang diselenggarakan dengan berbagai kegiatan dan perlombaan pada cabang olahraga dan seni dengan tema "Kembangkan kreativitas , semangat Olahraga dan Solidaritas".
D. Sasaran dan Target Kegiatan
Sasaran pada kegiatan ini yaitu, pada Siswa atau siswi SMA Negeri 1 Kabanjahe. Adapun target kegiatan ini yaitu diharapkan agar setelah kagiatan ini berlangsung para siswa dan siswi dapat terus mengembangkan kreativitasnya dan semangat juang serta rasa solidaritas yang tinggi.
E. Waktu, Tempat dan Jadwal
Kegiatan ini dilaksanakan tanggal 21 Desember sampai dengan 27 Desember 2012 bertempat di SMA Negeri 1 Kabanjahe.
F. Jadwal Pelaksanaan Program
  • Lomba Melukis dan Basket, dilaksanakan pada tanggal 21 Desember 2012 di ruangan kelas XII IPA 1 dan Lapangan Basket, pukul 09.00 - 12.00  WIB
  • Lomba Bernyanyi dan Bola Volli , dilaksanakan pada tanggal 22 Desember 2012 di Aula dan lapangan olahraga,  pukul 09.00 – 12.00 dan pada pukul 15.15 - 16.30 WIB
  • Lomba Menari dan Catur , dilaksanakan pada tanggal 23 Desember 2012 di Aula dan ruangan kelas XII IPS 1, pada pukul 09.00-12.00 dan pada pukul 15.15 - 16.30 WIB
  • Lomba Atletik , Lari Marathon dilaksanakan pada tanggal 24 Desember 2012 di lapangan olahraga, pukul 08.00 - 1.00 WIB dan Lari Estafet 14.15 - 16.30 WIB
  • Basket dan Bola Volli , dilaksanakan pada tanggal 25 Desember 2012 dilapangan olahraga, pada pukul 09.00 - 12.00 dan 14.15 -16.30 WIB
  • Catur dan Bola Volli , dilaksanakan pada tanggal 26 Desember 2012 diruangan kelas XII IPS.1 dan Lapangan Olahraga, pukul 09.00 -12.00 WIB
  • Basket dan Lari Estafet, dilaksanakan pada tanggal 27 Desember 2012 di Lapangan olahraga . pada pukul 09.00 - 12.00 WIB
G. Peserta Kegiatan
Peserta kegiatan dalam pelaksanaan Pekan Olah raga dan seni (Porseni) hanya diperuntukkan bagi Siswa dan Siswi SMA Negeri 1 Kabanjahe.  
H. Biaya Yang Diperlukan
a.) Rencana Pengeluaran

Rincian Hadiah
- Lomba melukis,  Menyanyi , Menari , Lari Marathon , Catur dan Tennis Meja  
Juara 1 @ Rp. 60.000       
Juara 2 @ Rp. 50.000      
Juara 3 @ Rp. 45.000
Maka total keseluruhan hadiah juara 1,2, dan 3 dari ke enam lomba ( Melukis, Menyanyi, Menari, Catur, Lari Marathon dan Tennis) tersebut adalah sebesar Rp. 930.000
- Bola Volly
Juara 1 @ Rp. 80.000         
Juara 2 @ Rp. 70.000         
Juara 3 @ Rp. 60.000
Total hadiah dari lomba volli yaitu Rp. 180.000 
Lomba Bola Basket dan Lari Estafet
Juara 1 @ Rp. 70.000         
Juara 2 @ Rp. 60.000 
Juara 3 @ Rp. 50.000
Total hadiah dari juara 1, 2, dan 3 dari kedua cabang olahraga (Bola basket dan Lari Estafet) adalah sebesar Rp. 360.000
Rincian Dana Alat-Alat Perlengkapan 
Spanduk                         =  Rp. 150.000 
Bola Volli dan peluit        =  Rp. 32.000 
Bola Basket dan peluit    =  Rp. 37.000 
Papan catur                    =  Rp. 50.000 
2 Macam Net                 =  Rp. 100.000 
Sound system                 =  Rp. 250.000
Total: Rp. 619.000
Rincian dana Komsumsi
Air minum sebanyak 30 dus     = Rp.450.000 
Snack ( kue )                          = Rp. 500.000  
Total:  Rp. 950.000 
Jumlah keseluruhan dari anggaran pengeluaran Porseni yaitu = Rp.3.039.000 ,- 
b.) Rencana Pemasukan
Dana Osis                                                                  = Rp. 500.000
Telokomsel cabang Bulukumba                                  = Rp. 1.000.000 
Dinas Pendidikan dan Olah raga Kab. Bulukumba      = Rp. 1.250.000 
Total                                                                         = Rp. 2.750.000 
c.) Rekapitulasi Anggaran  
a. Rencana Pengeluaran                                            = Rp. 3.039.000
b. Rencana Pemasukan                                             = Rp. 2.750.000
c. Saldo                                                                    = Rp. 0
  
I. Panitia
Pelaksanaan kegiatan Pekan Olahraga dan Seni (Porseni) ini diserahkan kepada pengurus Osis serta organisasi yang dinaungi oleh Osis (PMR , PRAMUKA dan E-CLUB ) dengan susunan panitia sebagai berikut:
Pembina  Osis                 :  Ate Ngena Barus , S.Sos
Ketua panitia                  :  Mabirona S
Sekertaris                       :  Novita Sari Sembiring
Bendahara                      :  Dewi Gita Kaban
1. Koordinator umum :    
Tifatul Kaban
Jepta Kaban
Swester Ginting
Sengaja Tarigan
Ricky Yakup
Melani     
2. Lomba Melukis :
A. Nidhiya
Risma
3. Lomba Menyanyi
Marudut
Cinor Kaban
Opran Sibarani
4. Lomba Menari  
Lopiga Purba
Sempurna Pinem
Shalman Purba
5. Lomba Bola Volli
Depri Sembiring
Elias Brahmana
Risa S
6. Lomba Bola Basket
Eprianta
Monalisa
Girik
7. Lomba Catur
Natangsa S
Pateropong K
Jasman T
8. Lomba Tenis Meja
Arman Maulana
Herbin Limbong
Raja Kaya Haloho
9. Lomba Atletik
Matias S
Sule Pramana
Rika Ananda
10. Perlengkapan (Alat-Alat Yang Digunakan)
Ervina Sitepu
Lijado
Desi S
11. Konsumsi
Eka Barus
Delianti Sitepu
  
J. Penutup
Demikian Proposal yang kami buat sebagai bahan acuan dan kerangka dasar demi terlaksananya kegiatan yang dimaksud , sekaligus menjadi bahan pertimbangan bagi Bapak/Ibu/Saudara ( i ) untuk berpartisipasi dalam kegiataan ini. Atas perhatian dan bantuannya kami hanturkan Terima Kasih.

                                                                                                               Kabanjahe, 21 November 2012

 
    Ketua                                                                                                                         Sekertaris


 Mabirona S                                                                                                          Novita Sari Sembiring
 


Mengetahui  Pembina Osis
 
 
Menanti Tarigan, Spd