Malam semakin pekat, betul Katamu Mahlin sepekat teh yang kusuguhkan kala dentuman jam semakin mencekam. Entah mengapa pulas semakin menjauh. Barangkali ia rindu seperti ini. Sibuk dengan pikiran-pikiran sendiri, menperhitungkan segala kemungkinan-kemungkinan yang mungkin hanya omong kosong belaka. Malam semakin pekat, suara jangkrik saja sudah tak terdengar barangkali ia sudah tertidur pulas menapaki indahnya buaian mimpi. Katamu malam semakin pekat, sepekat teh yang kusuguhkan, bukan hanya itu, pekatnya malam, sepekat perasaan atas segala keinginan-keinginan. Tentang keinginan, aku tak mengharap banyak hal, tak juga padamu lantaran mengharap padamu hanya akan membuat hati semakin pekat, tapi yang kuherankan mengapa setiap harinya ada keinginan tuk menatap mu dari kejahuan lewat jendela kecilku. Walau hanya sekadar menatap, terdiam, udah itu saja, sekadar ingin memastikan kamu belum pergi. Kamu masih terlihat meski hanya punggungmu saja yang semakin hari semakin samar. Kita perlu sama-sama yakin, akh yakin saja tidak cukup sebab yakin akan melemah karena keraguan. Akh sudahlah! Masih banyak hal yang harus kupahami, sebab ada yang lebih berarti daripada sebuah perasaan atas segala keinginan-keinginannya.
Tanggung Jawab
Jangan datang!
Jangan datang!
Jika engkau hanya membuat hati berarak-arak.
Jangan datang!
Jika engkau hanya membawa keluhan-keluhan yang engkau berharap kupahami sesungguhnya aku juga punya hanya saja aku simpan untuk diriku sendiri.
Jangan datang!
Jika engkau hanya membawa pesona serupa fatamorgana sesungguhnya aku tidak tertarik.
Jangan datang lagi!
Engkau hanya memberatkan isi kepala.
Jangan datang lagi! Kumohon!
Nyatanya engkau takdirku.
Koma Sebelum Titik
Lelah...
Ketika semua tak sama
Ketika beban di pundak terasa berat
Hilang...
Ketika semangat mulai meredup
Ketika asa mulai meredam
Yakin!
Meredup bukan berarti kehilangan cahaya bukan?
Meredam tak berarti tak ada bukan?
Hidupkan!
Hanya butuh koma (,) tuk berhenti sejenak
Menutup mata penuh renungan kemudian membukanya menuju titik (.) Akhir.
Cintai Apa yang Semesti-Nya
Kata orang ketika hatimu mulai tersenyum kemudian dengan lapang engkau menerima tanpa berpikir dan beralasan maka itulah cinta. Akh, aku tak percaya cinta! Cinta manusia itu lekas memudar sebab apa-apa yang tak bersesuaian dengan pikir dan hatinya ia kemudian berpaling, mudah sekali baginya mencari cinta yang lain. Manusia kerap kali menyamakan cinta dengan nafsu, keduanya amat berbeda, tapi akan sulit engkau temukan perbedaan itu jika kau tak paham. Ketika dua insan sedang dimabuk cinta maka apa-apa yang telah ditetapkan akan muda bagi mereka untuk melanggarnya, bukan cinta sih namanya jika dimabuk sebab cinta itu adalah ketenangan jiwa, kedamaian hati, dan segala yang baik-baik. Cinta manusia? Apa ada yang benar-benar cinta? Bagaimana dengan Cinta kepada Tuhanmu? Cintakah engkau Kepada-Nya? Taatkah? Aku masih ragu dengan kata cinta itu sendiri, sebab ketika engkau mengatakan cinta kepada Tuhan-Mu sedang engkau dengan mudahnya menanggalkan 5 waktu demi segala hal yang lain maka itu bukan cinta. Sebelum engkau mengatakan cinta pada yang lain, cintailah apa yang semestinya engkau cintai. Tempatkanlah cinta itu pada tempat-Nya kelak manusia yang engkau sukai tak akan kuasa menolak cinta yang memang layak untuk dicintai. :)
Tentang Kematian dan Kehilangan
Aku teringat tentang kejadian tahun 2004 silam. Kira-kira saya masih duduk di kelas 2 SMP. Waktu itu aku dirudung sedih, sedih yang teramat sakit dan memilukan. Rasa-rasanya seluruh organ dalam tubuhku tak dapat lagi berfungsi, aku meronta, berteriak sejadi-jadinya. Aku benar-benar kalap. Seolah tak ada lagi hari esok, tak ada lagi mentari yang bersinar. Orang-orang menatapku dengan Wajah-wajah iba. Kulipat kedua lututku dengan kedua tanganku kemudian tertunduk melipat kesedihan, aku lelah! Sesekali kulihat orang-orang berdatangan menggunakan pakaian hitam. Mengapa harus hitam? Sedang aku sendiri mengenakan sepasang pakaian berwarna merah jambu. Paling tidak tampilan luarku tampak ceria dengan pakaian merah jambu serupa gadis yang sedang jatuh cinta, tapi aku tak sedang jatuh cinta! Seolah hatiku tersambar petir, tiba-tiba gelap tak ada cahaya, hitam semuanya, tatkala mendengar lafadz "Innalillahi Wainnailaihi Rojiun" tepat bacaan Quran di Masjid dilantunkan untuk menjemput subuh. Ibu kemudian merangkulku bersama Ayunda, mencium kedua pipiku dan keningku dengan suara serak terbata-bata ia mengatakan "Bapakmu telah tiada Nak, ikhlaskan dan bersabarlah!" Aku hanya mematung tak bergerak dalam tubuhku seolah ada milyaran semut yang menggigit tulang-tulangku hingga kaku dan tak mampu bergerak. Waktu itu adikku masih kecil, masih belum paham tentang kematian dan kehilangan meski demikian wajahnya juga tampak sendu, sesekali ia tersenyum dan orang-orang hanya memandangnya dengan iba. Tentang Ayunda, ia sangat terpukul apatahlagi Bapak tak akan bisa menyaksikan ikrarnya di sebuah pelaminan. Tubuhnya terkujur kaku, hanya air mata yang mengalir tak ada lagi isak pilu, ia lelah. Ibu? Bagaimana dengan ibu? Ibu tak meronta, ia tampak tabah, mengusap air mata anak-anaknya, dan berkata "Ikhlaskan dan bersabarlah, kasihan Bapakmu dengan segala sakitnya." Di kedalam matanya kutemukan pedih di atas pedih. Sejak saat itu ibu tampak pendiam dan enggan berbicara banyak hal. Selama seminggu aku tak masuk sekolah yang menemani hanya instrumen musik klasik, hingga aku terlelap. Besoknya pun seperti itu, makanan yang lezat pun hanya tertahan di kerongkongan tak mampu tercerna dengan baik. Seminggu aku tak melakukan apa-apa kulihat ibu tampak sibuk mengurusi ini itu masih dengan tatapan sendunya. Kuamati kotak musik dengan assesoris gitar dan bentuk <3 berwarna merah jambu, kudengar lamat-lamat instrumen itu, benar-benar memilukan. Apakah kau akan mengabadikan kesedihan? Seolah dalam gelapnya hatiku terdengar suara. Meninabobokkan pilu dan tak melakukan apapun? Engkau masih muda dan hari esok itu masih panjang. Bangkitlah! Bergegaslah! Aku tersadar kesedihan menengelamkanku tak dapat berbuat apa-apa. Aku harus segera bangkit dan menganggap semuanya akan baik-baik saja, rencana Tuhan selalu lebih indah. Sekarang tepat 11 tahun kematian bapak,27 Februari 2015, ingin rasanya mengelus batu nisan bapak dan berkata "Pak, anakmu sudah sarjana. Gelarnya S.Pd. bukan S.E. maupun S.T. seperti yang selalu ku impikan sejak kecil ingin memimpin sebuah perusahan menjadi seorang direktur dan pemegam saham terbersar. Cukuplah aku menjadi seorang guru untuk calon-calon direktur kelak Bapak. Itu lebih menyenangkan bukan? Sekarang aku tengah menjalani pendidikan tuk meraih Master. Tentang anak bungsumu, ia tumbuh lebih subur dari biasanya. Sejak SD ia bercita-cita menjadi seorang dokter gigi entah ketika ia memasuki SMP ia kebingungan dan memilih tak ingin menjadi apa-apa, tetapi sejak bergabung menjadi pesilat-sekarang ia kelas 2 SMA- ia bercita-cita menjadi seorang polisi. :) Eh tentang putri tercantikmu, ia benar-benar cantik di atas pelaminan setelah tiga bulan kepergianmu. Sekarang engkau dikaruniai dua orang cucu yang cantik nan cerdas. Ayunda sangat baik kepada kami ia telah menyelesaikan study-nya di tengah sibuknya menjadi seorang ibu, sekarang ia menjadi seorang guru di TK, ia sangat menyayangi anak-anak. Tentang ibu? Akh istri terbaik yang kau miliki hingga sekrang masih menyetia dan ia sangat cantik. Jika engkau berkenan, kami ingin mencarikan pendamping untuk ibu, agar di masa tuanya ada yang menemani sebelum kedua putrimu ini mendengar dan mengucap ikrar di pelaminan. Bapak, engkau selalu hidup di hati kami!"
