Kriiiiiiiiigggg
kriiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiingggg kriiiiiiiingggggggg …
Jam weker berwarna pink
mulai berdendang dan berkumandang di telinga klatysa, sesekali ia berusaha
membuka matanya, dan mndapati jam weker motif bunga-bunga itu borjoget, plakkk
jam weker tersebut diam tag bergerak.
Jam sudah menunjukkan
pukul 07.00, ia pun masih terkapar di tempat tidur. Mata yang sembab membuatnya
malas beraktivitas, meski pagi itu ia harus bersekolah. Ibu yang sedang asyik
di dapur tak menyadari hal itu, sesekali ia melihat ke arah jam dinding.
“Tumben tak ada suara gaduh dalam kamar
mandi”. Gumamnya dalam hati.
Ibu melanjutkan
aktivitasnya, buat sarapan untuk suami dan anak-anak tercinta. Ia masih
terheran mendapati suasana hening dalam kamar mandi, apakah Tysa sudah sadar
dan tak mau lagi menggunakan kamar mandi sebagai panggung spektakuler?, bagi
Tysa, kamar mandi adalah tempat menyalurkan bakat, Tysa sangat hoby menyanyi
meski suaranya tak sedap didengar, jadi itu sebabnya ia hanya mau bernyanyi di
kamar mandi saja. Tapi kali ini suasana pagi itu sangat berbeda dengan
kamarin-kemarin. Ada apa dengan Tysa? Sakit kah ia?
“Tysa Tysa, udah mandi ya
nak?” teriak ibu.
Suara yang lembut itu tak
mendapat balasan jawaban. Ia pun beranjak dari dapur dan mengecek ke kamar
Tysa.
“Loh kok belum bangun
sayang?” kata ibu.
“Lagi dak enak badan Bu.”
“Kamu sakit?”
Tysa hanya mengangguk tak
bersuara.
“Baiklah, istirahat saja
ibu buatkan teh hangat untukmu.”
Wanita paruh baya itupun
beranjak dari tempat tidur dan membuatkan secangkir teh hangat untuk Tysa.
Setelah semua pekerjaan rumah terselesaikan, ia pun berangkat ke kantor bersama
suaminya. Di perjalanan mereka bercakap-cakap dan memutuskan untuk singgah
sejenak di sekolah Tysa.
Sebelum melangkah menuju
gerbang sekolah ia bertemu Rena sahabat anaknya, Rena heran mengapa ibu Tysa ke
sekolah.
“Tante ada apa? Tumben ke
sekolah, nganterin Tysa yah? Tanya Rena dengan ramahnya.
“Tysa sakit jadi tante mau
ketemu dengan walinya dulu.” (Ibu Tysa tersenyum).
Rena kasihan mendengar
Tysa sakit, mungkin ia masih terpukul dengan kejadian kemarin. Ia pun
menceritakan kejadian yang dialami Tysa di sekolah.
Kemarin Tysa mengikuti
lomba KTI (Karya Tulis Ilmiah), tiga minggu ia mencoba menyempurnakan karyanya,
setelah ia setor di panitia lomba judul KTI Tysa masuk sepuluh besar namun yang
mengherankan bukan namanya yang ada di pengumuman itu. Malah nama Indira yang
tertulis, Indira anak dari wakil kepala sekolah. Tysa sangat berharap bisa
memenangkan lomba itu karena hadihnya berupa beasiswa dan pertukaran pelajar ke
sekolah unggulan di Jawa.
Rena pun menceritakan
kejadian itu kepada wali kelas Tysa. Dengan mengambil keputusan yang bijak,
wali kelas Tysa menghadap ke kepala sekolah dan berharap sebelum panitia
memutuskan pemenang lomba KTI ada baiknya jika panitia mengadakan presentasi
untuk peserta lomba. Saran wali kelas Tysa diterima. Pelaksanaan presentasi
berlangsung dan ternyata Indira tidak mampu mempertanggungjawabkan karyanya dan
akhirnya diundanglah Tysa untuk naik presentasi. Proses presentasi berjalan
dengan baik. Betapa malunya Indira di depan teman-temannya dan mengakui
perbuatannya.
