RSS

Kamu! #5

Sepertinya matahari tak benar-benar rela melepas senja kali ini lihat saja langit tampak kelabu menutupi kesedihan mentari. Kamu tahu seperti apa rindu bersembunyi dalam hati? Ia serupa bayangan dalam kegelapan tak akan nampak sebab lebur bersama gelap atau serupa gemintang disiang hari tak akan nampak sebab ia tak mampu menghalau terangnya sinar mentari walau terkadang mendung ia tetap tak mampu bersinar sebab bintang tetap butuh gelap tuk memancarkan sinarnya. Akh, sulit rasanya mendeskripsikan seperti apa rindu yang malu-malu ini. Rindu yang menanti sosokmu tuk menyingkap rahasia Tuhan. Rindu yang selalu ditepis. Rindu yang selalu diragukan. Rindu yang sedang menujumu, iya kamu! Kamu!

Kamu! #4

Bandar Udara Internasional Sultan Hasanuddin 19.37 p.m. sedang menunggu pesawat landing saya sempatkan menulis ini. Oh yah barangkali kamu bertanya-tanya ngapain saya di sini? Menunggu kerabat ibu dari negeri Jiran. Akh, sudahlah itu tidak terlalu penting. Malam ini aku juga tak ingin menceritakan prihal anak kerabat ibu yang ketika tersenyum matanya nyaris tertutup rapat itu. Hehehe Baiklah! Kali ini aku mau bercerita prihal lelaki yang datang tiba-tiba dan memintaku memahami apa yang dia rasakan. Resek kan? Sedang memahami diri sendiri pun masih selalu diusahakan. Ia waktu itu aku dapat telepon dari tante, kakak ibu, barangkali ia juga khawatir aku tenggelam dengan kesibukan yang membuatku jarang pulang dan tentunya ia sedang menanti diperkenalkan seseorang yang istimewa dan aku hanya bisa menjawab tunggu! sabar! doakan saja! Wualah... jauh disebrang sana setelah menanyakan kabar serta pertanyaan-pertanyaan lainnya yang membuatku merasa seperti anak kecil tiba-tiba suaranya berubah, bukan dia lagi yang berbicara, tetapi seorang lelaki yang entah siapa. Seperti pada umumnya ia mulai bertanya nama, alamat hingga orang spesial, parahnya ketika menanyakan kesiapanku dan ingin bertamu di rumah memintaku baik-baik sama ibu. Wuaduh! Rasanya tuh seperti sedang dibegal di tengah jalan yang lengang kemudian ditodong dan meminta paksa apa-apa yang kumiliki. Syok tak alang kepalang. Gila aja, emangnya perasaan sebegitu mudahnya? Aku bukan anak kecil yang ketika disuguhi permen main iyya iya aja. Ada beberapa proses yang harus dilalui hingga bisa memahami kemudian menerima bukan sekadar perasaan semata atas segala keinginan-keinginannya. Tentang proses, teman kampus saya barangkali merasa sedang berproses dengan saya melalui guyonannya hingga ia benar-benar lelah dan meminta keseriusan. Hualah lagi-lagi aku diminta memahami apa yang tak kumengerti. Padahal kan yang namanya perasaan akan memahami tanpa harus diminta karena itu pemberian dari-Nya. Iyya gak? Pernah sekali waktu dia chating dengan saya awalnya sih menanyakan tugas, hingga berakhir dengan meminta harapan aku hanya membalas jangan berharap pada manusia, berharap pada sang Maha Pemilik. Lalu ia kembali mempertegas "Masa selama tiga semester mau bercanda melulu, saya minta kejelasan apakah harapan itu ada? Meski tidak sekarang, tapi nanti! saya hanya takut berharap buah jatuh pada pohon yang tak berbuah!" Rasa-rasanya saya ingin langsung menjawab "Maaf, saya sedang menjelma menjadi pohon pinus yang engkau tunggu buahnya jatuh." Baterai hp sudah warning saya cukupkan ceritanya sampai di sini, semoga...semoga... akh kamu! ;)

Kamu! #3

Selamat pagi kamu! Kamu yang barangkali belum pernah sekalipun bertemu denganku atau jangan-jangan kamu itu adalah sosok yang sudah lama saling mengenal, boleh jadi pula yang baru kenal kemarin yang mengajak makan bareng. Mengaduk-aduk gelas yang es batunya sudah cair namun suasana terasa semakin beku dan kaku. Ia beberapa hari yang lalu, aku dan anak kerabat ibu itu bertemu di resto yang menu utamanya ayam. Hummm padahal aku tak doyan-doyan amat dengan ayam. Tentunya sebelum mengiyakan ajakannya aku izin dulu dengan ibu. Kata ibu sih, iya udah lagian kalian memang harus saling mengenal. Kalian itu keluarga harus menjalin silaturahim. Bagaimana pun yang namanya hubungan darah ya tak akan pernah putus. Lagian di tempat makan kan banyak orang, ramai, terus kamu juga biasakan makan berdua dengan teman kamu, mengerjakan tugas, atau sekadar diskusi, bahas masalah hidup menghidupi yang sering kali kamu cekikikan ketika menceritakannya sama ibu. Kata ibu mengingatkan. Baiklah dengan alasan yang logis seperti itu aku mah its Ok aja! :-) kali itu kamu! ,hehehe Kami hanya bercerita tentang pekerjaan. Well anaknya asik ramah, bersemangat, gaya bicaranya khas gitu, unik, saya suka dengan senyumnya meski ketika senyum ia harus rela kehilangan matanya hehehe menyipit maksud saya. Detail banget yah? Akh, ini hanya gaya bahasa saya saja yang sedikit berlebihan. Aku yakin menujumu itu dan memilih hati ini berpaut dengan hatimu bukan sekadar suka, bukan sekadar keinginan-keinginan perasaan semata, tapi lebih dari itu, menerima. Iya menerima yang di dalamnya ada tanggung jawab tuk berjuang bersama. Kamu sudah tahu bukan bagaimana repotnya seorang perempuan jika ia berurusan dengan perasaannya sendiri! Hehehhhee Baiklah semoga harimu menyenangkan di sana hingga waktu benar-benar berbaik baik hati mempertemukan kita di jalan yang diberkahi-Nya atas ridho-Nya tentunya kita juga berharap rahmat dari-Nya bukan? :)
#Mks,20 Maret 2016

Kamu! #2

Selamat malam kamu! Semoga engkau masih tetap istiqomah dalam memperbaiki diri hingga kita benar-benar dipertemukan tuk saling baik membaikkan. Ini masih tentang kamu, tentang menujumu hingga aku benar-benar yakin bahwa engkaulah kamuku! :) Kisah yang akan saya tulis untukmu hingga benar-benar berlabuh di kamu tuk memulai kisah yang sesungguhnya. Kamu tahu? Apa yang paling merepotkan seorang perempuan? Hummmm perasaannya sendiri. Seperti malam ini barangkali saya sangat kerepotan hingga menulis kisah yang cukup belepotan ini. Kamu masih ingat kan tentang cerita di rumah kerabat dekat ibu. Ia yang itu, aroma-aroma makcomblang. Esok harinya kami sibuk melayani tamu-tamu kerabat ibu karena memang lagi ada acara syukuran. Hingga sore hari saya belum juga pulang lantaran masih ramai. Sejenak merebahkan tubuh yang lunglai di kamar. Melihat dentuman jam yang seolah mencekik kala teringat pekerjaan yang harus saya bereskan di rumah. Aku pun beranjak dari kamar maksud hati ingin minta izin tuk pulang. Tiba-tiba di pojok kursi ruang tamu seseorang yang mengenakan setelan jeans hitam dan kemeja hitam, rapi, rambutnya mudah diterbangkan angin sepertinya sengaja tak diberi pomade supaya kelihatan aura mudanya. Ia kemudian tersenyum, langkahku sempat terhenti. Entah saya lupa mau ke mana tadi tak berani menatap ke arahnya. Kerabat ibu yang melihatku kebingungan tiba-tiba nyeletuk "Nona, kenalan dulu, dia itu keluarga kamu loh. Masa sesama keluarga tak saling kenal?" Para abg resek mulai bergumam "Chiee chieee" ya elaa apa pula ini saya semakin hilang arah. Padahal saya kenal kok satu sekolah pula cuma bedanya satu tingkat di atas saya.  Saya pun tersenyum sedikit menetralisir keadaan. Akhirnya kami pun berkenalan, bercerita tentang masa sekolah. Tak terasa senja hampir saja menjemput malam, aku beranjak menemui kerabat dekat ibu, minta izin tuk pulang. Lah aku malah ditahan tuk bermalam sekali lagi. Setelah membujuk menjelaskan perihal tugas-tugasku, tanggung jawabku yang harus segera aku selesaikan. Akhirnya ia mengalah dan mengizinkanku tuk pulang. Pulanglah saya dengan beberapa pertanyaan yang menggantung di pikiran. Kamu tahu kan apa yang paling merepotkan dari seorang perempuan? Perasaannya sendiri! Kala itu aku sangat kerepotan menata perasaanku seperti repotnya ketika aku menulis tulisan ini, seperti malam ini. Perasaan yang berusaha selaluku tata dengan apik untuk menuju mu, menuju kehidupan yang sesungguhnya.

Kamu! #1

Senin malam, entah mengapa punya keinginan menulis ini. Ternyata menujumu bukanlah hal yang mudah. Aku tak pernah memiliki keinginan tuk memilikimu jika hanya sebatas angan atau ikatan yang kita buat-buat sendiri. Saya rasa kamu paham jika aku sudah benar-benar mengizinkan hatiku berpaut dengan hatimu itu berarti segenap hati keluargaku tentunya keluargamu juga ikut berpaut. Sebelum benar-benar menemukan kamu, aku ingin bercerita prihal lelaki yang sedikit menguras pikiranku. Kali pertama bertemu aku tak tahu persis yang kutahu aku bertemu dengannya di rumah kerabat dekat ibu. Barangkali memang sengaja tuk dipertemukan. Awalnya saya tak mengerti mengapa kerabat ibu banyak bercerita tentang keluarganya. Dengan wajah polos aku menjawab seadaanya. Di meja makan sambil menyantap hidangan makan malam yang kelezatannya tak usah diragukan lagi karena kerabat ibu yang satu ini sangat pandai memasak. Aku menikmati makananku wajarlah jarang sekali menemukan makanan ala-ala rumahan selezat ini biasanya hanya makan di warteg, lalapan, dan makanan siap saji lainnya. Setelah makan aku belum tersadar tentang cerita-cerita kerabat ibu. Pada malam lindap di balkon rumah sambil menyelesaikan tilawah tiba-tiba paman saya datang membawa sebotol minuman dingin. Tak usahlah saya sebut mereknya ntar dikira ngiklan. Hehehe. Paman ini terbilang pandai membuka pembicaraan dengan saya yang tabiatnya malu-malu (diawal-awal sih gitu, kalo udah kenal dekat, kocaknya udah gak ketolong lagi) pertanyaan demi pertanyaan aku jawab dengan sigap hingga mentok di pertanyaan "Selesai S2 langsung lanjut lagi S3?" Aku yang udah terbilang ceplas ceplos langsung nyosor menjawab, "Akh, Paman nikah dulu kali, gila aja!" Dari jawaban saya itu dan pertanyaan-pertanyaan paman berikutnya aku sudah mencium aroma makcombalang sedang beraksi. Akhirnya titik temu cerita di meja makan dan balkon rumah kutemukan juga muaranya. Aku tertawa, ini lucu menggelikan sekaligus mengkhawatirkan, hmm bahagia? Entahlah kali itu kamu jadi wajar dong aku bukakan jalan untuk dia. Well malam terlewati menyisakan tanya di kepala seperti apa rupa dia setelah mendewasa seperti sekarang ini. #bersambung