Senja hari ini kelihatan muram. Kehadiran jingga tak menjanjikan. apakah yang engkau lakukan ketika harapan-harapan kamu akan lebur bersama senja sore ini? Apakah kamu akan kehilangan ronamu? seperti Jingga yang tenggelam di kaki cakrawala terbawa arus senja yang membuka malam kelam?. Gadis itu masih dengan seribu pertanyaan tentang masa depannya, impiannya, dan harapan yang telah di susun setahun silam. Wajahnya sendu sudah seminggu beban pikirannya masih itu itu saja.
"Harusnya aku tak tergesa-gesa, seharusnya aku tak mengatakannya, terlalu hina." potongan makian untuk diri sendiri mungkin akan sedikit meredakan emosi kemudian disertai isak tangiss pilu.
"Apakah dengan tangis semua akan selesai?" Hening, terdengar suara yang sepertinya sangat membenci suara tangis. Lelaki itu bernama Ahmad Harapan lebih akrab disapa Afan. wajahnya tirus dengan hidung mancung mata bulat dilengkapi bulu mata lentik, sangat kompleks untuk wanita. Zaynah terkadang merasa minder ketika harus bepergian denganya, sosok sahabat yang memiliki tubuh ideal yang disukai banyak wanita. Afan menjulurkan tisu.
"Kamu masih memikirkan dia?"
Afan cukup mengerti ketika Zaynah tak menjawab pertanyaannya.
"Sudahlah, Kamu tau wanita yang cantik itu akan tampak cantik mesikupun hatinya sedang menangis, akh kamu tuh gak ada cantik-cantiknya, biar kata berhenti menangis akan tetap sama GAK CANTIK!" hahahhahaha. Afan dengan tawanya meski dibuat-buat sedikit meredakan sendu di mata Zaynah, ia tersenyum.
"Aku telah melakukan kesalahan besar."
"Pengakuan yang ke-108."
"Akh, kamu selalu begitu, sudah tau mataku sembab masih aja becanda."
"Emang bener kan yang keserat....." belum sempat melanjutkan perkataannya tiba-tiba Afan ditimpuk tisu bekas usapan air mata Zaynah.
"Asin tau, udah baik aku ke sini."
"Iya, iya, maaf. Fan, kemarin aku bertemu dengannya, bukan hanya aku dan dia, kami berkumpul dengan teman-teman studi yang lain. Acara reuni."
"Apa yang terjadi di sana? sepertinya kejadian di sana yang membuatmu betah berlama-lama di pantai ini."
Afan menatap Zaynah sangat dalam sedang yang di tatap hanya bercerita sambil menatap lamat-lamat senja yang mulai matang.
"Sepertinya teman-temanku telah membaca perasaanku selama ini, sikapku yang mungkin ganjil di mata mereka, tetapi aku masih bersifat hipokrit. Aku wanita sebesar apapun rasa yang tersimpan rapi dalam hati ini tak mungkin aku umbar. Kemarin ceritanya lain aku tidak menyimpan perasaan itu, dan bukan hanya dia yang tahu kebenarannya, melainkan teman-teman yang lain juga menyaksikan kebenaran itu." Zayna berbalik menatap Afan yang ditatap hanya membuang pandangan.
"Aku merasa terlalu hina dengan diriku, sangat memalukan, bahkan angin kala itu sangat berbeda, tatapan-tatapan yang menyorotiku seolah ingin menelanku, sahabatku Lira yang telah menyukainya sejak berada di lokasi pun punya sikap berbeda kepadaku. Aku salah Fan."
"Trus, apa ekspresi dia?"
"Dia hanya melanjutkan makan, tak ada ekspresi yang berarti, mungkin pengakuanku terasa hambar."
"Dia hanya melanjutkan makan, tak ada ekspresi yang berarti, mungkin pengakuanku terasa hambar."
"Hahahhahaaa, Zaynah ada pepatah yang mengatakan Kalau cinta mulai diumbar maka akan terasa hambar."
Sempurna 47 detik yang memesona sunset tenggelam di kaki cakrawala menenggelamkan cerita-cerita Zaynah, azan magrib pun berkumandang.
***
Mungkin yang kau rasakan senja tadi sama seperti yang kurasakan. Pengakuan-pengakuanmu tentang lelaki itu sangat menyakitkan. Bedanya kau mengungkap, menumpahkan segala perasaamu padanya, bahkan disaksikan oleh teman-temanmu sedang saya hanya berani menyimpannya, merawatnya, dan menunggu waktu itu tiba. Entah kau paham atau tidak, caraku memandangmu sangat berbeda dengan caraku memandang wanita lain. Meskipun parasmu tidak terlalu cantik, entah kecantikan apa yang ada pada dirimu sedang memabukkan ku, menengelamkanku dalam kisah yang tak menemui ujung pangkal karena ikatan persahabatan. Aku menyukaimu Zaynah, aku menyukai matamu yang sederhana dengan tatapan yang tulus dari hatimu yang membuat orang menatapnya sungguh luar biasa. Aku menyukaimu, aku menyukaimu.Sebuah pengakuan yang disaksikan oleh hujan yang seolah berubah menjadi salju, petir yang menyambar seolah berubah menjadi alunan violin yang biasa kau mainkan Zaynah. Aku mencintaimu Zaynah.
***
"Sudah lama menunggu?, maaf tadi harus mengurus siswa privat ku, besok ia ada lomba puisi." Afan yang belum melihat kehadirannya, Zaynah pun sudah panjang lebar menjelaskan.
"Setengah jam aku menunggumu, gak masalah ini pertemuan terakhir setelah melawati hari yang panjang aku akan menemuimu kembali."
"Akh kamu bicara apa sih. Bagaimana dengan studimu? kamu jadi ke Jogja?"
"Afan, koq diam? jawab kek apa kek, komen kek?" Sambil mematuk-matuk kripik kentang tanpa membagi Afan.
"Cerewet amat udah move oN? cinta bertepuk sebelah tangan, ahhahaahha." Merebut sebungkus keripik kentang.
"Kamu tuh klo udah dapet kripik kentang asin rasa bawang, semuanya dilupakan, bahkan aku tak ditawari, kalau gak direbut gak bakalan kebagian."
Zaynah tersedak percikan air yang keluar dari mulutnya membasahi jilbabnya.
"Bagaimana dengan studimu?"
"Bagaimana dengan pria itu?" Zaynah paham betul ketika Afan menjawab pertanyaannya dengan pertanyaan.
"Ok ok. gag ada apa-apa, semua mengalir seperti biasa, kadang ia nelpon, cuma bertukar kabar. Dia di luar kota sekarang sedang bekerja di sebuah perusahaan."
"Kamu masih mencintainya.?"
"Kamu kok berubah jadi kepo gini, sejak kapan, sejak kapan?"
"Kamu masih mencintainya?" Tak sepantasnya aku menanyakan hal ini, tapi senja hari ini mengharuskanku mempertanyakannya.
"Kenapa? tumben menanyakan hal itu."
"Kamu masih mencintainya?"
"Mmmm, entahlah.. rasa itu perlahan redup, bukan berati ia telah hilang. Cuma redup mungkin ia mulai bosan dengan permainan waktu. Sekarang giliranmu!"
"Aku diterima Zaynah, studiku akan lanjut meraih master."
"Alhamdulillh, kamu memang pantas mendapatkannya, sayang kan kalau IPK 3,97 disiasiakan oleh pemerintah. Bagaimana dengan wanitamu?"
"Wanitaku?" Pertanyaan Zayna seolah menghentikan waktu, nyiur yang tadinya melambai bersorak-sorak dipermainkan angin seolah berhenti. Deburan ombak yang bergemuruh seolah berbalik arah.
"Iya, Wanitamu yang maya itu, semu."
"Aku tidak akan mengungkapkannya."
"Payah, kamu kan lelaki harusnya siap dengan segala keputusan wanita maya mu itu."
"Aku hanya menunggu waktu yang baik Zaynah, mungkin dua atau tiga tahun lagi aku akan menemuinya kembali di tempat ini."
"Umurmu sudah terlalu tua tuk pacaran." Zaynah meledek.
"Aku tidak akan memintanya tuk jadi pacarku, aku ingin meminangnya Zaynah."
Zaynah menatap Afan lamat-lamat, perkataannya tak sedikitpun bercanda. Ia masih menatap sedang yang ditatap hanya tersenyum getir. Ada yang bergejolak dalam hati Zaynah, ia tak paham, ia tak mengerti apa yang sedang dirasakannya.
"Kamu benar-benar menyukai waniat maya mu, bahkan kau jarang bertemu denganya. Aku salut padamu Fan."
"Lusa aku akan berangkat."
"Aku akan merindukanmu, Fan."
Aku juga akan sangat merindukanmu Zaynah, meski kau tak paham tatapanku yang sangat berbeda dengan caraku menatap wanita lain, dua atau tiga tahun ke depan aku akan kembali menemuimu di tempat ini, janjiku.

1 komentar:
ceritax sngat menarik..
I like it..
ditunggu karya berikutx yah.. :-)
Posting Komentar