Edelweis dan Kris untuk Raja
Tokoh-tokoh dalam cerita:
Raja
Sutan
Burlian
Penasihat Raja
Perdana Menteri
Pengawal I
Pengawal II
Petani
Pengemis I
Pengemis II
Di sebuah negeri antah berantah berdirilah
kerajaan yang dinamai kerajaan Fityan. Kerajaan Fityan dipimpin oleh Raja yang
arif dan berbudi pekerti baik. Meskipun demikian, ada-ada saja kejadian yang
membuat kepala raja mumet atas tingkah
laku rakyat pun putra-putranya. Raja Fityan meminta petinggi-petinggi kerajaan
untuk berkumpul di istana.
Babak I
Di
sudut Musala tampak penasihat raja dan perdana menteri sedang bercakap-cakap,
tiba-tiba saja pengawal kerajaan datang.
Pengawal I :
“Assalamualaikum” (Sambil menundukkan kepala tanda hormat).
Penasihat raja dan Perdana
Menteri : “Waalaikumsalam”
Perdana Menteri : “Apa gerangan yang membawamu
kemari Pengawal?”
Pengawal I : “Raja meminta Tuan
dan Tuan untuk segera ke istana.”
Penasihat Raja : “Baiklah, kami akan segera ke sana.”
Penasihat Raja : “Baiklah, kami akan segera ke sana.”
Pengawal II menyambut kedatangan
petinggi-petinggi kerajaan dengan menundukkan kepala.
Pengawal II : “Silahkan masuk Tuan,
Raja telah menunggu di singgasananya!”
Penasihat
Raja dan Perdana Menteri melanjutkan langkahnya menuju singgasana raja.
Penasihat Raja : “Ada apa gerangan Tuan
memanggil kami?”
Raja : “Aku ingin Perdana Menteri
mengabarkan perihal rakyatku!”
Hening sejenak tampak cemas wajah
petinggi-petinggi kerajaan.
Perdana Menteri : “Ampun Tuan, telah terjadi
kekacauan di masyarakat.”
Raja : “Ceritakan padaku apa yang
terjadi!”
Perdana Menteri : “Kami mendengar kabar bahwa
Burlian telah membuat kekacauan Tuan.”
Penasihat Kerajaan :
“Inilah yang membuat kami resah Tuan, ada petani di luar sedang menunggu
biarlah dia yang menceritakan duduk masalahnya.”
Raja :
“Baiklah, Pengawal persilahkan masuk si petani!”
Pengawal II :
“Baik Tuan!”
Datanglah
seorang petani diantar oleh pengawal raja.
Penasihat Kerajaan :
“Ceritakanlah apa yang terjadi di ladangmu!”
Dengan wajah pucat dan cemas
petani itu pun bercerita.
Petani :
“Ladang tebu kami habis Tuan dibabat oleh Burlian, ia gunakan batangnya untuk
membuat perahu-perahu. Padahal tebu-tebu itu tumpuan keluarga kami Tuan.”
Raja :
“Maafkan perlakuan putraku, aku akan mengganti seluruh kerugiannya.”
Petani : “Terima
kasih Tuan.”
Babak
II
Raja bingung hukuman apa yang
akan memberikan efek jera kepada putranya. Mengurungnya di bawah tanah rasanya
juga tak mungkin. Raja tak tega menghukum putra bungsunya. Akhirnya
petinggi-petinggi kerajaan mengusulkan agar kedua putra raja akan berjalan kaki
menuju bukit dan membawa pulang sesuatu untuk raja.
Raja :
“Pengawal, panggil kedua putraku kemari!”
Pengawal I :
“Baik Tuan!”
Di kamar putra raja.
Burlian :
“aduh! Aduh! Gawat, gawat, gawat…” (cemas, sambil mondar-mandir)
Sutan Kusuma :
“Ada apa? Mengganggu konsentrasiku saja.” (sambil membaca buku)
Burlian :
“Jika berita ladang itu sampai kepada Ayahanda bisa mati kita!”
Sutan Kusuma :
“Haa KITA? Lo aja kali gue nggak!”
Tiba-tiba saja pengawal datang memanggil kedua putra raja untuk
menghadap Ayahanda menerima hukuman atas perlakuan Burlian. Sutan kusuma sempat
protes mengapa ia juga ikut dihukum padahal ia tidak melakukan kesalahan.
Dengan bijak raja mengatakan bahwa adikmu telah melakukan kesaalahan dan engkau
tidak melarangnya sedang engkau berada di tempat kejadian. Burlian dan Sutan
Kusuma menyesali perbuatannya dan menerima Hukuman dari ayahanda. Ia pun
berjalan kaki menuju Bukit Barisan.
Babak III
Kedua putra raja diberikan bekal secukupnya menuju Bukit Barisan. Ia pun
berangkat setelah melaksanakan salat subuh. Sejauh mata memandang, puncak bukit
tampak begitu dekat meski sebenarnya masih membutuhkan beribu langkah untuk
mencapainya. Di perjalanan ia bertemu dengan seorang pengemis yang sudah tua.
Pengemis itu mendekati Burlian yang lima langkah lebih depan daripada Sutan
Kusuma kakaknya.
Pengemis :
“Tuan, bagilah aku sedikit makanan, dua hari aku belum makan Tuan.”
Burlian : “Maaf Kakek,
aku tak bisa membaginya sebab Ayahku memberikan bekal pas-pasan menuju bukit.”
Sutan
Kusuma : “Ini untukmu
kakek, hanya ½ bagian saja.”
Pengemis : “Ini sudah lebih
dari cukup Nak, sebagai ucapan terima kasih saya ingin memberikan kris ini kepadamu.”
Sutan
Kusuma : “Wah, keren
sekali Kek, terima kasih ini akan saya persembahkan untuk Ayahku.”
Burlian
tampak menyesal mengapa ia tak memberikan sebagian makanannya kepada pengemis
itu. Ia kemudian melanjutkan perjalananya. Di tengah perjalanan, ia bertemu
dengan seorang pengemis lagi yang sedang duduk di bawah pohon rindang dengan
kaleng yang sudah karatan. Ia kemudian berpikir untuk memberikan makanannya,
bukan setengahnya tetapi semua makanannya agar ia diberikan benda yang jauh
lebih keren daripada kris Sutan Kusuma. Ia pun menghampiri pengemis itu.
Burlian :
“Apakah engkau merasa lapar Kek?”
Pengemis II :
“Iya nih, aku belum makan siang. Kamu pengertian sekali Nak.”
Burlian :
“Ini aku berikan semua bekalku untukmu.”
Pengemis II :
“wah terima kasih Nak.” (dengan mata yang berbinar-binar)
Burlian
memerhatikan pengemis itu makan dengan lahapnya. Barangkali setelah makan ia
akan memberikan sesuatu padaku, pikir Burlian. Ternyata pengemis itu pun tak
memberi apa-apa kepada Burlian. Padahal sedari tadi ia mengharapkan sesuatu.
Burlian berlalu, segala kejadian membenak di kepalanya. Ia sadar seharusnya ia
memberi tanpa harus mengharap kembali seperti yang dilakukan kakaknya.
Burlian
berjalan tertatih karena lelah dan rasa lapar. Tapi ia harus bertahan dan
bertanggung jawab atas segala perbuatannya. Ia duduk di tumpukan bebatuan
melihat di sekeliling, hamparan bunga edelweiss menyejukkan mata menyegarkan
pikiran. Ia kemudian memutuskan memetik bunga edelweiss untuk ayahnya dan
bergegas menuju kerajaan sebelum gelap menyelimuti bumi.
Kedua
putra raja tiba di kerajaan.
Sutan kusuma : “Ayahanda, ini aku
persembahkan kris pemberian seorang kakek yang telah kuberi sebagian bekalku
sebab ia lapar.”
Raja : “Terima
kasih Nak katas budi baikmu.”
Semua
orang terperangah atas budi baik putra raja, Sutan Kusuma. Kemudian tiba
saatnya Burlian mempersembahkan benda untuk ayahanda.
Burlian :
“Ayahanda, aku hanya memberikan bunga edelweiss ini untukmu!”
Semua
orang tertawa kecil, namun Raja tampak penasaran dengan bunga edelweiss itu.
Raja :
“Mengapa engkau memberi bunga edelweiss Nak?”
Burlian : “Aku telah
menyesali perbuatanku Ayah, ini adalah bunga edelweiss bunga keabadian yang
akan mekar meski telah terpisah oleh akarnya.”
Suasana tampak hening sejenak,
kemudian burlian melanjutkan penjelasannya.
Burlian : “Begitupun
dengan hidup. Meski raga dan jiwa kita telah terpisah kita seharusnya tetap
indah dengan amal dan perbuatan baik kelak akan baik pula di kehidupan yang
abadi.”
Seisi
istana bertepuk tangan dan terharu atas perubahan sikap putra raja. Raja
memeluk putranya dan merasa bangga memiliki dua putra yang berbudi baik.
***END***

0 komentar:
Posting Komentar