RSS

Sudahlah!

Andai engkau paham betapa pentingnya komunikasi! Akh, aku rasa engkau sangat paham sebab usiamu bukan lagi kanak-kanak yang belajar merapal huruf-huruf kemudian bersembunyi ketika ada hal yang tak bisa engkau selesaikan. Usiamu sudah terbilang mapan bukan untuk memahami itu? Akh, sudahlah aku lelah!

Hujan dan Rindu

Rindu itu serupa hujan yang tetiba datang diringi kilat bersenandung petir kemudian pergi menyisakan aroma tanah basah.

Dara

Serupa dara yang enggan melihat bumi sedang ia berpijak di atasnya

Tentang Rindu

Kalaulah rindu adalah tandus?
maka hujan adalah penawar
Kalaulah rindu adalah jarak?
maka pertemuan adalah obat
Kalaulah rindu adalah malam
Maka pagi adalah tempat berlabuh
Kalaulah rindu adalah dosa?
maka menghalalkan adalah jalan

Akar

Tarulah cinta itu serupa bibit yang mengakar yang enggan tumbuh
Menggeliat dalam tanah menjalar hingga menembus dinding-dinding rumah tak pula engkau temukan batang yang kan memucuk hingga berbunga. Hei, tahu kamu? Bahkan ketika banyak yang meminta akar itu untuk dilahankan, ia masih saja terpaku dalam ruang kaku yang barangkali engkau tak paham. Sedang akar itu pun tak meminta lahan yang layak tuk ia bertumbuh menjadi pucuk yang berbunga.

Satu-dua Tanya Tumpah Ruah

Terkadang ketika aku dalam renunagan panjangku pada malam lindap satu-dua pertanyaan bermunculan hingga tumpah ruah. Akh... memang malam selalu terasa panjang menjemput pagi yang penuh Rahmat-Mu ya Rabb. Setiap hembusan nafas yang dititipkan kepadaku akan kugunakan untuk apa? Tangan yang lincah bergerak apa sudah tepat fungsi? mata yang melihat segala keindahan dunia, apa ia terjaga? Semoga saja tak dilena. Telinga yang senantiasa mendengar, apa sudah pada tempatnya?  Bibir yang senantiasa berucap, apakah ia berucap yang baik-baik? Sedang Langkah kaki yang masih mencari arah apa sudah tepat arah? Rasanya sesak di dada tak kala aku ingin bebicara tentang hati. Apa ikhlas ada di sana? Apa segala yang baik-baik terpelihara di sana? Dan semoga saja segala dusta tak bersembunyi di sana! Semoga ya Rabb! Sungguh aku masih dengan pikiran-pikiranku yang aku sendiri masih belum mengenal tentang hati yang engkau titip dalam raga ini. Sungguh kelogisan dunia masih saja berdentang di kepala tak kala ingin berbuat. Sekali waktu aku pernah mengadu kepada Ibu. Ada sebuah kejadian yang membuat hatiku sakit dan berdetak serupa bunyi mesin jahit di kepala. Waktu itu aku sedang berbelanja di toko kelontong sebut saja Toko Mbak Sri. Aku suka berbelanja di tempatnya sebab Mbak Sri orangnya ramah dan suka senyum meski sebenarnya lebih murah jika berbelanja di mini market tapi tak apalah demi melihat senyum Mbak Sri,hehehe.  Pada saat itu aku kehabisan sabun ia menawariku sabun mandi yang katanya sangat harum. Mbak Sri mempromosikan dengan ramah sembari tersenyum penuh ketulusan. Hingga aku mulai tertarik cukup murah untuk kantong mahasiswa, goceng dapat dua. Memang benar kata Mbak Sri sabunnya wangi semerbak. Aku datang lagi di Toko Mbak Sri, sayang yang melayani bukan Mbak Sri, tapi suaminya Mas Darmo. Kuutarakan maksudku untuk membeli sabun sesuai harga yang pernah diberikan Mbak Sri. Suara Mas Darmo tentu beda dengan Mbak Sri, apalagi wajah sedikitpun tak ada keteduhan kutemui pada saat itu barangkali karena cuaca yang sangat panas hingga yang nampak pun wajah berang Mas Darmo.
"Iyya, yang itu sabunnya Mas."
"Bener goceng?"
"Iyya Mas."
"Apa kamu tidak berbohong? Akh jangan-jangan kamu berbohong?" Tuduh Mas Darmo berkali-kali di tengah pembelinya yang lain. Mataku mulai berkaca, hanya mau beli sabun, pun jika harganya naik aku masih sanggup bayar. Rasanya ada sebilah bambu yang tersasar di hati. Aku menatap tajam dan berucap "Tidak jadi!" Kemudian berlalu. Aku menceritakan kejadian itu kepada Ibu. Ibu hanya menjawab, "Lah baru seperti itu kamu sudah tersinggung? Barangkali hatimu belum baik." Hatiku belum baik? Kembali aku meraba-raba masih banyak hal yang harus kurapikan prihal hati yang masih berarak-arak sebab berjarak dengan kebaikan. Ampuni dan tuntunlah ya Rabbi.

Sendu di Balik Suara Ibu

Tiba-tiba saja aku merasa ada yang aneh ketika mendengar suara ibu disebrang sana. Suara ibu tak seperti biasanya. Barangkali ibu sedang menyembunyikan sesuatu. Meski terdengar baik-baik saja tapi aku merasa hati ibu sedang tidak baik. Tiap larik kata terdengar sendu. Duhai ibu! Hal apa yang tak terjelaskan? Hatiku sudah terlampau menerka-nerka dan sekalipun niatan tak ada terbesit untuk membuatmu murka. Jangan! Jangan sekalipun engkau memberi sebilah kata yang membuat ibu luka, ia sudah cukup banyak beban yang selalu membenak, lukanya belum cukup kering untuk menanggungnya. Entahlah Bu! Barangkali aku sendiri yang jadi beban tuk ibu. Terlalu berkehendak melakukan ini dan itu hingga jarak semakin menjauh dan rindu semakin menjadi kala malam datang bersama bintang yang tak mampu lagi kulihat pendar cayanya.

Ibu, dusta tak akan mendatangkan kebaikan sekalipun untuk kebaikan. Ibu kalaulah ada niatan terbesit di hati perihal tak mengenakan hati mari berbincang kita bagi sendu bersama kalaulah aku yang jauh memberatkan, pintalah aku baik-baik dengan ketulusan hati aku menerima setiap kehendakmu jikalah ragu yang terucap di bibir ibu, biarlah aku berkehendak atas keinginan hati untuk mencari perihal yang belum aku temui. Selamat malam Ibu! Aku mencintai ibu!

Ibu

Ibu ada banyak hal yang ingin kuceritakan padamu. Ini tentang aku yang takut jika berbuat salah padamu. Aku tak ingin membuat mu marah ibu. Takut kalau-kalau wajah cantikmu sudah mulai keriput sebab ulahku yang tak sepaham denganmu. Akh kata 'cantik' ibu paling senang dengan sebutan itu. Ibu sering bercerita masa mudanya dahulu dan paling senang dipanggil nona cantik. Ibu memang cantik. Ibu entah mengapa perasaan ini seringkali mendekap kala malam sebelum mata benar-benar terpejam. Akh aku tak lagi membicarakan rindu ibu! Bukan rindu bu, bukan! kalaulah rindu tak usah ditanya bu, ia selalu ada bahkan ketika aku telah mengusirnya sekejap ia tak pernah pergi. Rindu selalu ada untukmu ibu. Ibu ini prihal hidupku yang akan datang. Boleh jadi aku masih merasa seperti kanak-kanak yang masih saja ibu suapi jika tanganku kotor karena sedang mengerjakan sesuatu, tetapi usia tak pernah salah atas angka yang terbilang. Memang belum terlalu tua usiaku sekarang tetapi kok rasa-rasanya aku takut menuju ke sana. Ibu tahu apa yang ada dipikiranku tentang bertumbuh menjadi dewasa dan mapan? Ada dua kata yang terlintas KERJA DAN NIKAH Itu adalah masa miskin waktu sebab sibuk bekerja dan mengurusi keluarga. Barangkali itu adalah masa yang diimpikan seorang gadis diusiaku sekarang. Tapi aku malah... entahlah ibu aku hanya takut jika lupa diri. Lupa dari mana aku berasal. Aku masih ingat pesan ibu.  "Engkau harus tahu kunci penggerak di dalam dirimu yakni hati yang selalu mengingat Sang Pemilik Hati, hati yang tahu dari mana ia berasal dan tahu tempat kembali-Nya." Barangkali engkau sudah terlelap ibu sebab malam semakin larut dan rindu tentang mu sedang menodongku, mendekap erat-erat di dada membuatku sesak. Salam rindu dariku Ibu! :*

Adakah ia?

Dada berdebam melarik beringas pada malam yang lindap
Adakah kau dengar?
Rindu menjelma serupa benalu
Menggeliat pada pohon yang sedang berbunga
Adakah kau tahu?

Murka

Sekali ibu murka
Sungguh rida Tuhan enggan berkenan

Hilang

Tak bisa merangkai kata untuk beralasan sebagai ganti ungkapan hanya air mata yang mengalir tiada henti sebab ini sakit di atasnya sakit `kehilangan`.

Peristiwa Gandapura

Baru baca postingan kk Aztriana 'cenceng' ttg 'Marahlah dengan Anggun' setelah lebaran kemarin ada peristiwa yang menggelitik hati, membuat aku tersentuh betapa ibu selalu memberi contoh yang baik. Aku menamainya peristiwa 'Gandapura'. apa sih gandapura? gandapura sejenis tumbuhan perdu yang daunnya dipakai sebagai campuran obat gosok. sejenis minyak urutlah yang perihnya gak ketulungan. kejadian ini berawal ketika aku mulai sering sakit kepala. Ibu mendatangkan tukang urut barangkali ibu kasihan melihat saya yang keseringan mengeluh. sembari melipat pakaian yang menggunung ibu menyuruh mengambilkan minyak gandapura kemudian tukang urut meyapukan minyak tersebut kebagian leher belum cukup satu menit aku sudah kalap, berteriak sejadi-jadinya, menangis sekeras-kerasnya, menendang sekitaranku, saking perih yang tak bisa aku tahan. ini perih, perih sekali! Ibu sibuk menenangkanku, mengipas-ngipas bagian leher hingga tangisku reda. yang tak aku sangka ibu malah menyuruh tukang urut menyapukan bagian lehernya dengan minyak super perih itu, seluruh bagian belakang kemudian ibu berkata "Iya! rasanya memang perih, tetapi seharusnya kamu mampu menahan, harusnya kamu bersabar, ini perih belum seberapa, ini sakit, sakit yang belum ada apa-apanya dibandingkan apa yang akan kamu lalui kedepannya." Duhai ibu, aku benar-benar kalap, malu rasanya, sampai-sampai aku jadi bahan ledekan keponakan-keponakanku, harusnya aku mampu menahan. Ibu melanjutkan perkataannya pada sisa isak tangisku "Sekarang sudah enakan bukan? harusnya kamu tahu gandapura ini obat yang kan meresap ke jaringan kulit yang memang perih, tetapi setelah perih itu memuncak akan ada rasa nyaman hingga sakit di kepala pun tak terasa." aku tersenyum, bercampur isak yang masih tergugu. Aku malu! Ibu melanjutkan lagi "Andaikan tukang urutnya mengidap penyakit jantung dan syok gara-gara peristiwa tadi, Ibu tidak akan sungkan melaporkanmu ke polisi untuk memanjarakanmu." ibu tersenyum tidak enak kepada tukang urutnya dan aku? aku masih tergugu-gugu entah karena malu, gak enak atau apalah namanya.

Aku Mencintaimu Seperti...

Aku mencintaimu seperti akar tanaman yang rela bersembunyi di bawah tanah asalkan reranting tetap melangit.

Aku mencintaimu seperti tanaman putri malu yang akan terus mengatup dedaunannya jika mendapat pengaruh dari luar.

Aku mencintaimu seperti jarak yang terlalu jauh untuk ku gapai namun terdekap di hati.

Aku mencintaimu seperti jarak yang selalu melahirkan rindu. Meski terpisah, asa dan rasa kan tetap ada untuk bersamamu.

Aku mencintaimu seperti kata yang tak akan habis aku rangkai hingga petang kembali petang.

Ilusi Hati Penenang Pikiran

Separuh hatiku telah ku simpan baik-baik untukmu sebagai penghuni yang dimuliakan dan separuhnya lagi kuserahkan kepada Tuhan Sang Pemilik Hati, semoga ia ridho!
#ilusif

Arah yang Berarak-arak

Bak kelinci yang tersesat di tengah hutan. Tak tahu arah, hanya berjalan terus mencari arah malah berarak-arak tambah salah arah. Meski memiliki kompas sebagai penuntun arah, tapi percuma saja saya tidak tahu bagaimana menggunakannya. Aku telah melangkah terlalu jauh dan selalu berusaha memberi arah domba-domba kecil berbulu lebat itu, tapi apa? Aku sendiri tak pernah paham mereka. Seharusnya aku yang berubah, berpikir lebih mendalam agar aku mampu memahami mereka hingga tak perlu lagi ada suara keras, hentakan kaki, sorot mata yang tajam, dan ancaman-ancaman lain yang serupa sebab mereka telah sadar dengan sendirinya hakikat keberadaanku bersama mereka. Semoga saja saya mampu! :-)

Sekolah

Di tempat ini aku melihat rupa kanak-kanak yang siap mengenal dunia. Barangkali ia belum tahu yang hak pun batil. Ini tugasku memberikan yang terbaik untuk mereka. Bismillah!

<3

Sebab engkau mendekatiku dengan mencintai orangtua ku barangkali hatiku tak berkeberatan jika engkau menjadi peghuni yang dimuliakan.
Mks, 21/07/14

NASKAH DRAMA ANAK



Edelweis dan Kris untuk Raja
Tokoh-tokoh dalam cerita:
Raja
Sutan
Burlian
Penasihat Raja
Perdana Menteri
Pengawal I
Pengawal II
Petani
Pengemis I
Pengemis II

Di sebuah negeri antah berantah berdirilah kerajaan yang dinamai kerajaan Fityan. Kerajaan Fityan dipimpin oleh Raja yang arif dan berbudi pekerti baik. Meskipun demikian, ada-ada saja kejadian yang membuat kepala raja  mumet atas tingkah laku rakyat pun putra-putranya. Raja Fityan meminta petinggi-petinggi kerajaan untuk berkumpul di  istana.
Babak I
Di sudut Musala tampak penasihat raja dan perdana menteri sedang bercakap-cakap, tiba-tiba saja pengawal kerajaan datang.
Pengawal I                          : “Assalamualaikum” (Sambil menundukkan kepala tanda hormat).
Penasihat raja dan Perdana Menteri : “Waalaikumsalam”
Perdana Menteri             : “Apa gerangan yang membawamu kemari Pengawal?”
Pengawal I                          : “Raja meminta Tuan dan Tuan untuk segera ke istana.”
Penasihat Raja                  : “Baiklah, kami akan segera ke sana.”
                Pengawal II menyambut kedatangan petinggi-petinggi kerajaan dengan menundukkan kepala.
Pengawal II                         : “Silahkan masuk Tuan, Raja telah menunggu di singgasananya!”
                Penasihat Raja dan Perdana Menteri melanjutkan langkahnya menuju singgasana raja.
Penasihat Raja                  : “Ada apa gerangan Tuan memanggil kami?”
Raja                                       : “Aku ingin Perdana Menteri mengabarkan perihal rakyatku!”
                Hening sejenak tampak cemas wajah petinggi-petinggi kerajaan.
Perdana Menteri             : “Ampun Tuan, telah terjadi kekacauan di masyarakat.”
Raja                                       : “Ceritakan padaku apa yang terjadi!”
Perdana Menteri             : “Kami mendengar kabar bahwa Burlian telah membuat kekacauan Tuan.”
Penasihat Kerajaan         : “Inilah yang membuat kami resah Tuan, ada petani di luar sedang menunggu biarlah dia yang menceritakan duduk masalahnya.”
Raja                                       : “Baiklah, Pengawal persilahkan masuk si petani!”
Pengawal II                         : “Baik Tuan!”
                                                Datanglah seorang petani diantar oleh pengawal raja.
Penasihat Kerajaan         : “Ceritakanlah apa yang terjadi di ladangmu!”
                 Dengan wajah pucat dan cemas petani itu pun bercerita.
Petani                                   : “Ladang tebu kami habis Tuan dibabat oleh Burlian, ia gunakan batangnya untuk membuat perahu-perahu. Padahal tebu-tebu itu tumpuan keluarga kami Tuan.”
Raja                                       : “Maafkan perlakuan putraku, aku akan mengganti seluruh kerugiannya.”
Petani                                   : “Terima kasih Tuan.”

Babak II
               Raja bingung hukuman apa yang akan memberikan efek jera kepada putranya. Mengurungnya di bawah tanah rasanya juga tak mungkin. Raja tak tega menghukum putra bungsunya. Akhirnya petinggi-petinggi kerajaan mengusulkan agar kedua putra raja akan berjalan kaki menuju bukit dan membawa pulang sesuatu untuk raja.
Raja                                    : “Pengawal, panggil kedua putraku kemari!”
Pengawal I                          : “Baik Tuan!”
               Di kamar putra raja.
Burlian                                : “aduh! Aduh! Gawat, gawat, gawat…” (cemas, sambil mondar-mandir)
Sutan Kusuma                    : “Ada apa? Mengganggu konsentrasiku saja.” (sambil membaca buku)
Burlian                                : “Jika berita ladang itu sampai kepada Ayahanda bisa mati kita!”
Sutan Kusuma                    : “Haa KITA? Lo aja kali gue nggak!”
           Tiba-tiba saja pengawal datang memanggil kedua putra raja untuk menghadap Ayahanda menerima hukuman atas perlakuan Burlian. Sutan kusuma sempat protes mengapa ia juga ikut dihukum padahal ia tidak melakukan kesalahan. Dengan bijak raja mengatakan bahwa adikmu telah melakukan kesaalahan dan engkau tidak melarangnya sedang engkau berada di tempat kejadian. Burlian dan Sutan Kusuma menyesali perbuatannya dan menerima Hukuman dari ayahanda. Ia pun berjalan kaki menuju Bukit Barisan.
Babak III
             Kedua putra raja diberikan bekal secukupnya menuju Bukit Barisan. Ia pun berangkat setelah melaksanakan salat subuh. Sejauh mata memandang, puncak bukit tampak begitu dekat meski sebenarnya masih membutuhkan beribu langkah untuk mencapainya. Di perjalanan ia bertemu dengan seorang pengemis yang sudah tua. Pengemis itu mendekati Burlian yang lima langkah lebih depan daripada Sutan Kusuma kakaknya.
Pengemis                            : “Tuan, bagilah aku sedikit makanan, dua hari aku belum makan Tuan.”
Burlian                       : “Maaf Kakek, aku tak bisa membaginya sebab Ayahku memberikan bekal pas-pasan menuju bukit.”
Sutan Kusuma                   : “Ini untukmu kakek, hanya ½ bagian saja.”
Pengemis                            : “Ini sudah lebih dari cukup Nak, sebagai ucapan terima kasih saya ingin memberikan kris ini kepadamu.”
Sutan Kusuma                   : “Wah, keren sekali Kek, terima kasih ini akan saya persembahkan untuk Ayahku.”
            Burlian tampak menyesal mengapa ia tak memberikan sebagian makanannya kepada pengemis itu. Ia kemudian melanjutkan perjalananya. Di tengah perjalanan, ia bertemu dengan seorang pengemis lagi yang sedang duduk di bawah pohon rindang dengan kaleng yang sudah karatan. Ia kemudian berpikir untuk memberikan makanannya, bukan setengahnya tetapi semua makanannya agar ia diberikan benda yang jauh lebih keren daripada kris Sutan Kusuma. Ia pun menghampiri pengemis itu.
Burlian                                  : “Apakah engkau merasa lapar Kek?”
Pengemis II                        : “Iya nih, aku belum makan siang. Kamu pengertian sekali  Nak.”
Burlian                                  : “Ini aku berikan semua bekalku untukmu.”
Pengemis II                        : “wah terima kasih Nak.” (dengan mata yang berbinar-binar)    
                Burlian memerhatikan pengemis itu makan dengan lahapnya. Barangkali setelah makan ia akan memberikan sesuatu padaku, pikir Burlian. Ternyata pengemis itu pun tak memberi apa-apa kepada Burlian. Padahal sedari tadi ia mengharapkan sesuatu. Burlian berlalu, segala kejadian membenak di kepalanya. Ia sadar seharusnya ia memberi tanpa harus mengharap kembali seperti yang dilakukan kakaknya.
                Burlian berjalan tertatih karena lelah dan rasa lapar. Tapi ia harus bertahan dan bertanggung jawab atas segala perbuatannya. Ia duduk di tumpukan bebatuan melihat di sekeliling, hamparan bunga edelweiss menyejukkan mata menyegarkan pikiran. Ia kemudian memutuskan memetik bunga edelweiss untuk ayahnya dan bergegas menuju kerajaan sebelum gelap menyelimuti bumi.
                Kedua putra raja tiba di kerajaan.
Sutan kusuma                   : “Ayahanda, ini aku persembahkan kris pemberian seorang kakek yang telah kuberi sebagian bekalku sebab ia lapar.”
Raja                                       : “Terima kasih Nak katas budi baikmu.”
               Semua orang terperangah atas budi baik putra raja, Sutan Kusuma. Kemudian tiba saatnya Burlian mempersembahkan benda untuk ayahanda.
Burlian                                  : “Ayahanda, aku hanya memberikan bunga edelweiss ini untukmu!”
                Semua orang tertawa kecil, namun Raja tampak penasaran dengan bunga edelweiss itu.
Raja                                       : “Mengapa engkau memberi bunga edelweiss Nak?”
Burlian                          : “Aku telah menyesali perbuatanku Ayah, ini adalah bunga edelweiss bunga keabadian yang akan mekar meski telah terpisah oleh akarnya.”
             Suasana tampak hening sejenak, kemudian burlian melanjutkan penjelasannya.
Burlian                      : “Begitupun dengan hidup. Meski raga dan jiwa kita telah terpisah kita seharusnya tetap indah dengan amal dan perbuatan baik kelak akan baik pula di kehidupan yang abadi.”
             Seisi istana bertepuk tangan dan terharu atas perubahan sikap putra raja. Raja memeluk putranya dan merasa bangga memiliki dua putra yang berbudi baik.

***END***

Surat Sajak yang Mengantarmu Pulang

"BILA daun itu tautan, aku akan memberikanmu pepohonan. Bila air itu pelipuran, aku akan menghadiahimu lautan. Bila rindu itu kemilauan, aku akan membawakanmu bebintang. Bila persahabatan itu diriku, tidak berlebihan, bukan, bila kupersembahkan hatiku?..."

                                                                                                                          (Cerpen ke-9,Benny Arnas )

Perahu Tak Berdayung Oleh: NF




“Aku tak tahu harus melakukan apa. Banyak yang gaduh di sini –pikiran— namun tetap saja di hati hanya terukir satu nama. Entah kata apa yang harus kurangkai untuk ayah agar ia paham. Apa yang harus kulakukan? Serasa aku kehilangan arah! Aku hanya mengikuti arus lantaran belum memiliki dayung. Perahuku hanya mengalir saja mengikuti arah mata angin. Sekenannya membawanya berlayar. Rasanya sulit sekali menggerakkan perahu yang satu ini –hati—“
Hei, apa yang membuatmu begitu membatu? Haruskah aku mengeluarkan cambuk ekor pari? Seperti yang dilakukan guru mengajimu? Aku yakin kau masih mampu merasakan betapa sakitnya waktu itu. Boleh jadi sakit di badanmu lekas sembuh. Tapi bagaimana dengan hatimu? Apa baik-baik saja? Kau malu kan ketika ekor pari itu menghujam punggungmu lantaran tak tahu mengaji. Semua mata mengarah padamu. Rerintik di matamu mulai berjatuhan dengan irama isakan yang terdengar begitu pedih. Bukan karena punggungmu sakit, melainkan tetangga yang menatapmu prihatin. Mereka mencemooh anak seorang HAJI tiga kali tetapi tak bisa mengaji.
Kau masih ingat waktu itu? Kau terus berlatih meski masih patah-patah. Kau menangis tertahan ketika usai salat subuh kau terus mencoba merangkai huruf-huruf arab tersebut. Rasanya sulit sekali menggerakan geraham, terlalu kaku bagimu. Herannya engkau terlalu fasih ketika menyanyikan lagu-lagu barat. Kau tahu kenapa? Karena kau terlalu sering mendengarkannya. Sederhana saja bukan? Satu lagi, barangkali kau lupa. Hati senantiasa akan tergerak ketika ia digerakkan dengan pembiasaan.
Barangkali kau juga lupa Rheya ketika engkau dipanggil ke meja bundar. Ia meja bundar yang berarti ada perilaku menyimpang yang tak disukai keluargamu. Engkau datang dengan wajah ketus. Cantik sekali rupamu, rambutmu terurai hitam mengkilat –habis direbonding—kau memang keras kepala Rheya. Sudah beribu kali engkau dingatkan untuk berjilbab tapi engkau hanya berkata...
“Aku takkan berjilbab jika hatiku belum berjilbab!”
Aku tak bisa menahan tawa mendengar kalimat bodohmu. Seketika ayahmu datang membawa sebuah buku kumpulan cerita pendek islami “Jilbab Pertamaku” satu kalimat saja yang membuat mulutmu terkunci dan tak ada alasan untuk tidak membaca buku yang menurutmu konyol itu, kau bahkan menyumpahi para penulisnya.
“Sekolahmu akan berakhir jika engkau tak membacanya hingga kau paham!”
Engkau memang keras kepala Rheya, bahkan namamu Raodah entah bagaimana caramu kau bisa menyulap orang-orang memanggilmu dengan sebuta Rheya. Hahaha
Kata demi kata mulai terangkai dalam pikiranmu. Diam-diam menelusuk hingga ke dasar hatimu. Barangkali tak mudah bagimu, tapi lihatlah karena kesungguhan, hatimu tergerak bak speedboat yang sedang menikung dengan gerakan yang mengagumkan. Wajahmu cantik mengenakan jilbab Rheya!
“Ini tak sama ketika aku belajar mengaji yang kemudian hatiku tergerak karena ekor pari yang menghujam punggungku dan cemooh tetangga. Tak sama pula ketika aku disuruh berhijab. Seketika hatiku tergerak bak speedboat yang menikung hanya karena buku kumpulan cerpen dan kalimat ayah yang mengancam masa depanku. Tak sama Za!”
“Hatimu akan tergerak jika ia sudah terbiasa.”
“Aku tak mungkin menerima lamaran itu lantaran ia kaya dan mampu membuatku bahagia seperti presepsi ayahku.”
“Kau mampu melakukannya Rhe!”
Aku terdiam, mengapa pula Za terlalu menginginkan aku menerima lamaran lelaki itu.
“Aku rasa bukan itu yang membuatmu menolaknya Rhe! Ini karena Raihan kan?”
“Barangkali!” aku mengangkat bahu, wajah Za Nampak merah padam entah apa yang dirasakannya suasana jadi hening kemudian aku melanjutkan pembicaraan.
“Hatiku sudah terbiasa dengannya Za.”
“Bagaimana denganku Rhe? Aku mengenal Raihan dari kecil hingga kita sama-sama tumbuh menjadi dewasa kemudian aku mengenalkannya denganmu. Kau tahu kan aku sudah sejak lama terbiasa dengannya. Bagaimana dengan hatiku? Apakah ia hanya menganggap Raihan teman biasa saja? Tak mungkin bukan? Harusnya kau tahu diri!”
Aku tersentak mendengar pengakuan Za. Ngilu di ulu hati mulai berdebam  seolah peluru-peluru menghujam di dada mengingatkan aku untuk tahu diri. Bukankah Za telah mati-matian mengingatkanku prihal masa laluku yang selalu menurut keinginan ayah, bukankah ia menginginkanku menerima perjodahan itu lantaran hatinya telah tertambat pada Raihan. Aku harusnya tahu diri seperti yang dikatakan Za. Aku hanya memiliki perahu tak berdayung yang hanya berlayar mengikut arah mata angin.
***

Aku Ingin

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
Seperti isyarat mata kepada hati yang menjadikanmu candu

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
Seperti isyarat agama dan hukum yang menjadikanmu halal

#Modifikasi puisi Sapardi Djoko Damono ^_^
#Fath

Perempuanku



Harusnya aku tak menjerumuskanmu dalam duniaku. Kupikir kau akan cukup kuat dengan status berteman saja. Aku tahu apa yang kau rasakan karena aku juga merasakannya. Kau tahu? Aku juga sangat menikmati hari-hari bersamamu sehingga aku pun luput menjaga jarak hatiku dan hatimu. Aku sadar aku salah, tak seharusnya sejauh itu mengenalmu. Mungkin alasanmu menutup-nutupi perasanmu karena aku masih dengan kekasihku.
Aku tak mencintai kekasihku. Dia yang mencintaiku membuatku berat untuk monolaknya. Andaikan kamu datang sebelum dia, mungkin aku cukup kuat beralasan untuk menolaknya. Sayangnya kita baru bertemu sekarang di sebuah kegiatan kampus. waktu yang cukup lama tuk mengenalmu dan membuatku benar-benar menemukan perempuanku.
Pernah sekali waktu aku bertanya padamu.
“Ketika ada seseorang lelaki yang menyukaimu sekarang ini, apakah ada kemungkinan kamu menerimanya?
“ Mungkin aku akan menjawab, terima kasih telah memilihku. Aku takut bermain-main dalam wilayah rasa, takut akan menjadi dosa terindah dalam hidupku.”
Aku cukup paham maksudmu. Bagimu pacaran hanyalah buang-buang waktu. Terkadang aku butuh berpikir keras tuk memahami maksudmu. Buku-buku yang ada dalam kopermu terkadang membuatku pening melihatnya. Kau ini mau melaksanakan tugas kampus atau sedang berdagang buku? Aku tidak suka membaca itu intinya. Tapi aku suka melihat gerakan patah-patahmu saat kau membaca, alismu, raut mukamu dan aku suka kacamatamu mungkin hal-hal kecil itu yang membuat kamu diam-diam masuk ke alam bawah sadarku. Aku mencintaimu Laila. Sungguh aku ingin kau menjadi perempuanku.
***
“Kita seharusnya tak duduk berduaan di sini!”
“Kenapa? Karena aku harus menghargai kekasihku?”
“Aku perempuan Dahlan, bagaimana jika Riany datang dan menemui kita di sini. Aku hanya takut ia salah paham.”
“Kenapa harus takut kalau memang tidak ada apa-apa?”
Kau selalu berhasil buat mulutku terkunci Dahlan, selamat atas prestasimu. tapi sayang kau selalu gagal menemukan hatiku karena kamu tak lebih dari seorang pecundang. Kau memang penuh pesona, selain kecemerlangan dalam bidang teknologi, keramahan, pun tampangmu memang memesona. Tapi itu malah membuatku muak dengan semuanya. Aku membencimu, aku membencimu Dahlan aku tak meyukaimu karena kau menyukaiku dan kekasihmu masih bersamamu. Aku membencimu.
***
Kau selalu saja peduli dengan perasaan orang lain? Tapi bagaimana dengan perasanmu sendiri? Apa baik-baik saja? Sepertinya tidak. Aku tahu itu Laila karena aku juga merasakan hal yang sama. Aku sangat geram melihatmu sok bahagia dengan Aziz. Tertawa riang yang sebenarnya kau buat-buat saja. Kau sedang tidak bahagia Laila. Aku tahu itu dan aku pun sedang tak bahagia dengan kekasihku karena Tuhan telah mempertemukanku dengan perempuanku mungkin itu alasannya.
Aku hanya kasihan dengan Aziz mungkin juga cemburu. Tak lebih kau hanya menjadikannya sebuah pelampiasan atas ketaksanggupanmu menutup-nutupi perasaanmu. Apa salahnya jika kau mengakui bahwa kau juga memiliki perasaan yang sama denganku. Bagiku itu cukup buatku untuk mempertahankan perasaan ini kelak aku akan memintamu baik-baik ketika Riany telah paham bahwa dari awal hanya dia yang mencintaiku bukan aku. Kurasa ia akan paham karena selama ini ia yang memintaku mencintainya bukan hatiku yang memilihnya.
Kekasihku mungkin sadar atas perasaanku padamu. Ia pernah bertanya hal perempuan yang kuingini. Mungkin ia merasa bahwa ia bukanlah perempuanku.
“Perempuan yang mana lagi yang harus kuingini, jika dihadapanku ini lebih baik dari yang lain.”
“Akh, kamu itu bisa saja buat aku nahan amarah. Harusnya aku sudah ngamuk denganmu!”
“Loh, ada apa?” tanyaku skeptis.
“Abis klo kamu bicara dengan Laila kamu semangat banget, binar mata mu sangat dalam ketika menatapnya,”
“Laila asyik sih diajak ngobrol.”
“KAMU….” Aku menghentikan kegiatanku di depan komputer. Mencoba menenangkan Riany dengan berbicara lebih dekat dengannya. Aku memandangnya lekat-lekat, jauh di dalam matanya ia sangat menyayangiku, masih sama ketika ia pertama kali mengenalku melalui sahabatnya yang juga bersahabat denganku.
“Bukannya kamu juga begitu dengan Laila. Aku juga terkadang cemburu melihatmu berbicara lama dengannya.”
“aku kan perempuan jadi ya gak masalah.”
“Berarti kalau aku, akan jadi masalah?”
“Iyalah masalah. Aku takut kamu menyukainya!”
Pernyataan Riany membuatku tercengang, serupa menelan buah pare. Pahit, tapi sedikit demi sedikit membuka jalan tuk ia kembali dengan hati yang akan menerimanya tanpa meminta untuk diterima. Aku sudah menyukainya Riany, kamu telat mencegahku, aku sudah menyukainnya, maafkan aku.
“Terkadang jika kita takut kehilangan sesuatu, maka kita akan kehilangan.”
“Apaan sih, kamu gak nyambung. Ya sudah lanjutkan laporannya, besok Prof. Djumadi datang memantau.”
“Loh, kok baru bilang? Akh, kamu selalu buatku keteteran.” Kamu berlalu dengan senyuman yang buatku tak tega meninggalkanmu. Kamu masih takut kehilanganku, tatapanmu yang polos mungkin menganggap perasaanku baik-baik saja padamu. Kau tidak pernah mengenalku Riany, bahkan ketika aku mengiyakan bersamamu. Kau benar-benar tak mengenalku mungkin karena ego hatimu yang terlalu ingin memilikiku.
***
“Dua hari lagi kebersamaan di posko ini akan berakhir, tak akan berulang, tapi perasaanku mungkin akan tetap sama Laila. Adakah sesuatu yang ingin kau ucapkan padaku?”
“Baik-baiklah dengan Riany!”
“Hanya itu?”
“Ya, mungkin hanya itu.”
“Aku pun tak akan memaksamu mengakuinya. Setidaknya kata mungkin berarti masih ada cela bukan?”
“Maksud kamu?”
“Cela untuk perasaanku padamu.”
“Kamu selalu PD Dahlan, bahkan urusan perasaan. Aku tak bisa membalas apa yang kau rasakan. Baik-baik dengan Riany. Hanya itu dan tak pakai mungkin.”
“Baiklah, baik. Aku akan baik-baik dengan Riany. Kamu juga baik-baik dengan Aziz jangan permainkan perasaannya!”
Aku hanya mengangguk dan tersenyum kemudian berlalu di hadapan Dahlan. Rasanya tak sanggup melihatnya lebih lama dengan perasaan yang tertahan. Aku membencimu Dahlan. Aku membencimu karena kau menyukaiku.
Perihal aku dan Aziz hanyalah sebuah pertemanan. Dengan siapa lagi aku berbincang kalau bukan Aziz, Riany, Kemal, Aden, dan kamu. Diantara semuanya, selain kamu, mungkin aku memang lebih dekat dengan Aziz. Aziz sering bercerita kepadaku tentang perempuan yang disukainya tetapi ia tak memiliki keberanian tuk berterus terang.
Kau membuatku pening setiap kau membicarakan perasaanmu padaku. Selama tiga bulan aku mengenal Riany, ia baik tak sepatutnya kau memiliki perasaan padaku. Sebenarnya kamulah yang sedang mempermaikan perasaanmu. Bagaimana tidak, kamu bahkan mengakui tak mencintai kekasihmu, tetapi kau menerimannya sebagai kekasih kemudian kamu mengakui kau mencintaiku. Di mataku kau tak lebih dari seorang pecundang. Kuharap setelah kegiatan ini berakhir, perasaanmu pun akan sama. Sama seperti kisah Kemal yang bermula pada pertemuan pertama dengan Siska dan berakhir pada upacara pelepasan kegiatan ini. Bagiku itu bukan cinta melainkan keinginan hati yang bernama ego. Aku takut yang kurasakan padamu sama seperti Siska mantan kekasih Kemal dan aku tak bisa menjanjikan apa-apa perihal perasaan kepadamu.
***
Sudah dua tahun setelah acara pelepasan kegiatan kampus itu usai. Barangkali kau benar-benar mengabaikan perasaanku. Seperti yang kau minta aku menjalaninya dengan baik-baik bersama Riany, tetapi rasanya semakin sakit karena perasaanku masih sama. Riany masih tetap saja menjadi kekasihku tapi ia tak bisa menjadi perempuanku.
Tahukah kamu yang terjadi menjelang aku menyelesaikan tugas akhirku? Kamu tidak tahu bukan? Karena kita sudah tak saling berkabar lagi. Kamu terlalu angkuh untuk sekadar menyapaku meski lewat sms, atau jejaring sosial. Bukan aku yang menemukan surat yang kau selip dalam ranselku. Bukan aku Laila! Riany yang menemukannya hingga ia marah tak alang-kepalang. Terjawab sudah seluruh kecurigan-kecurigaannya padaku. Pada akhirnya yang kamu takutkan pun terjadi. Mungkin Riany sangat membencimu.
  “Akan kuberitahu bagaimana aku mencintaimu. Menjauhlah dariku! Aku akan    menjaga perasaanku untukmu. Kelak ketika kamu sanggup mintalah aku dengan cara baik-baik lalu aku akan datang membawa segala yang kupunya untukmu, tak akan bersisa. Aku akan selalu ada di belakangmu ke mana pun kau mengarahkan perahumu, sekeras apapun ombak menghantammu, aku akan tetap berdiri di belakangmu, bersamamu! Seperti itulah caraku mencintaimu. Aku pun takut jika kau menjadikanku perempuanmu dan ternyata kau rindu dengan kekasimu ataukah kau menjadikanku kekasihmu tetapi kau masih mencari perempuanmu seperti halnya Riany kekasihmu ”
Berkali-kali kubaca suratmu, berkali-kali pula aku tertampar oleh kata-katamu. Sudah bertahun-tahun aku menjalaninya dengan Riany, tetapi aku juga tak berani mengakhirinya. Pikirku ia akan sabar menantiku hingga hatiku benar-benar menerimanya. Ternyata tidak! hatiku tak pernah menerima Riany hingga suratmu membuat hubunganku dengannya berakhir. Mungkin Riany sangat membencimu.
Aku pun takkan memintamu lagi. seperti katamu jangan-jangan yang kurasakan bukanlah cinta hanya saja keinginan hati yaitu ego memilikimu yang terlalu kupertuankan. Jika memang aku dan kamu adalah takdir kelak kamu akan datang tanpa aku meminta untuk diterima. Semoga saja!