Skuter putih melaju dengan mulus mengikut suasana hati yang mengalun riang, lembut menyenangkan. kendaraan yang lalu lalang, bunyi klakson seakan mengalun seperti irama musik klasik yang mendamaikan. Matahari yang begitu terik terasa sejuk merasuk kedalam lapisan epidermis kulit. apakah engkau sedang berbahagia nona? hiiihiihiii <senyum malu-malu>
Banyak yang berkomentar bahwa menunggu adalah hal yang sangat membosankan, tapi ini kali kasusunya beda, aku menunggu demi arah masa depan, itu yang membuatku teramat bahagia. meski orang yang kunanti acuh tak acuh kepadaku. aku bersabar, aku membutuhkannya.
Sesekali ketika kudapati rupanya menoleh ke arahku, tak ragu aku melempar sesungging senyum kepadanya meski hanya berbalas cibiran sinis. aku mulai bertingkah mungkin grogi, tingkah lebayku pun kumat itu hanyalah sedikit tingkah keseimbangan rasa kecewa. hehehehe aku masih di sini menunggu sosok bijak yang tercermin dari rupanya yang bersih dengan guratan-guratan tanda usia matang, masih dengan posisi duduk yang sama, tepat disudut pintu utama ruangan para petinggi-petinggi kampus.
Entah apa yang buat ku begitu yakin bahwa kau akan menemuiku, bertatapan muka secara langsung, aku masih dalam ketidakpastian. Mungkin hal yang membuatku yakin ketika kudapati rupamu dan tak jera ku tersenyum ke arahmu, dan kau membalasnya dengan anggukan sekali, ya anggukan walau hanya sekali tapi itu adalah isyarat pasti untukku. Terima Kasih
Ini kali dengan posisi duduk berbeda, mataku mulai mencari-cari aliran listrik tuk laptop ku yang perlahan melemah, ia tak setegar diriku menunggu. <hihihihi ada-ada saja> akhirnya dapat juga. Anggukan itu ternyata isyarat pasti, ketika sosok yang kunanti keluar dari rungannya dengan memakai seragam olahraga sepatu yang necis bak anak muda jaman sekarang. Kudapati dirinya berdiri tepat disampingku, kusodorkan senyum termanisku, ia pun menegur ku.
"Siapa yang kau tunggu?" tanyanya
aku tersenyum dan mulai membuka bibir, agak berat "Anda Prof." jawabku singkat.
"Kenapa tidak dari tadi?" tanyanya lagi.
wah-wah parah, sedari tadi aku mengekor dibelakangnya ketika ia sedang mencari kuncinya yang hilang, ke lantai dua aku pun membuntutinya, macam mana pula ini prof, seusai salat, aku mencoba ketuk ruanganya dan membuka pintu tapi terkunci. ckckckckkc tapi aku tak berkeluh kesah didepannya cukup aku membalas tanyanya dengan seulas senyum, tanda hormatku padanya. ia pun kembali membuka percakapan yang menurutnya solusi pasti.
"Bagaimana ini, saya mau main tennis. Begini saja aku kasih kamu kunci jika ada perempuan berpakaian hitam putih meminta kunci rungan saya silahkan berikan, dan tunggu saya di sini jangan ke mana-mana, jika kamu beranjak dari tempatmu jangan harap konsultasi kepada saya lagi, usai main tennis kumenemuimu di sini"
"Iya Prof, saya tunggu Anda di sini" jawabku singkat tanpa berpikir panjang.
Ia pun berlalu dengan cibiran sinisnya, tak apalah bagiku menunggu asalkan itu pasti, jingga kala sore itu memancarkan rona yang terang seakan-akan membuatku kuat dan tegar serta mengajariku mengisi waktu dengan kegiatan yang bermanfaat. ^____^

0 komentar:
Posting Komentar