Piiiiiiiiiiiiiiiiiipppppp
piiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiipp pip pip pip …………………….
Bunyi klakson yang keras, memekakkan telinga membuat gadis yang mengendarai skuter pink itu terperangah. Mata sipit itu kemudian berbalik dan berkata.
Bunyi klakson yang keras, memekakkan telinga membuat gadis yang mengendarai skuter pink itu terperangah. Mata sipit itu kemudian berbalik dan berkata.
“Pak
sabar dikit knapa?”
Karina
mencoba menyalakan skuternya tapi belum
berhasil juga.
“Eh
dik kalau dak bisa nyala motornya dipinggirkan donk, bikin macet saja.” Teriak seorang supir angkot dengan nada
sinis.
“uuuuu
belagu, baru aja mengendarai angkot dah bacrit alias banyak cerita.” Gumamnya dalam
hati sambil mendorong motornya mendekati trotoar. Mencoba mengutak atik skuter
pink yang mulai tak bersahabat lagi, entah apanya yang bermasalah. Jam sudah
menunjukkan pukul 07.11, jarak ke sekolahnya masih jauh. Matanya melirik kesana
kemari mencari sesuatu yang bisa menyelamatkan dirinya pagi itu. Pencariannya
tidak sia-sia, ia mendapati bengkel di sudut jalan, kira-kira berjarak 20
meter. Dengan segera Karin mendorong motornya ke bengkel tersebut. Dia kemudian
berlari menuju halte dan menunggu angkot.
Sesampai
di gerbang sekolah ia langsung menuju koperasi dan merampungkan tugas-tugasnya
untuk dijilid. Bel sudah berbunyi, Karin masih sibuk dengan kertas-kertas yang
berserakan di atas meja. Lima menit telah berlalu. Setelah semuanya rampung ia
pun bersegera menuju ke kelas. Tapi guru mata pelajaran tengah melangsungkan
pembelajaran, tugas-tugas sudah bertumpuk di atas meja. Tanpa berpikir panjang
Karin masuk dengan memberi salam.
“Assalamualaikum,
saya boleh masuk bu?”
“waalaikumsalam,
silahkan masuk, simpan tas Anda, kumpulkan tugas dan silahkan berdiri di depan sambil
berpose seperti patung liberty selama 15 menit.”
Karin
menurut saja yang diperintahkan oleh gurunya karena ia telah menyetujui kontrak
pembelajaran yang ditawarkan oleh guru pengampuh mata pelajaran Mate-matika
itu. Masih untung tugasnya mau diterima. Lima belas menit berlalu, Karin
diperbolehkan duduk di tempatnya.
Setelah
memberi asupan makanan untuk otak dengan berbagai bidang studi ternyata sangat
melelahkan bagi Karin apalagi harus berdiri selama lima belas menit di depan
teman-temannya.
Jam
sudah menunjukkan pukul 14.00 saatnya ke bengkel tuk mengecek skuter pink yang
mogok di tengah jalan. Karin menuju ke halte dan menunggu angkot.
Sesampai di bengkel, Karin
segera membayar ongkos perbaikan skuternya dan memutar skuter pink itu menuju
jalan, ia tampak terburu-buru melihat kondisi awan yang tidak mendukung. Siang
itu langit tampak mendung. Baru saja Karin berhasil menyalakan skuternya hujan
pun mulai turun membasahi kota Daeng kala itu. Karin mengurungkan niat untuk
pulang dan menunggu hujan reda. Hari itu adalah hari yang penuh cobaan buat
Karin, hari sial tak bersahabat yang menimbulkan kegalauan bagi gadis belia
Karina Rezak.

0 komentar:
Posting Komentar