RSS

Kabut Hati



Entah dari mana pikiran bunda bermula. Ide yang sangat membuatku panik dan syok stadium akhir. Mendengar percakapan singkat lewat telepon perihal kepindahanku ke pesantren. Kesalahan apa yang telah kuperbuat, ini sudah pertengahan Ramadan, sekolah sudah diliburkan kecuali pesantren yang sibuk dengan segudang aktivitas. Mondok kata itu yang buatku sangat terpukul. “Mondok di pesantren.” kata itu selalu ada kaitannya dengan nasi rantang, diantar tepat waktu, makanan yang terjadwal, dengan masakan yang itu-itu saja. Akh bunda tega sekali membuangku di pondokan.
“Aku tidak mau mondok Bun!” Pintaku langsung ke pokok persoalan.
“Supaya kamu lebih mendalami agama sayang.”
“Akh, bunda sudah kelewatan, MONDOK sama dengan PENJARA.”
“Itu pandangan kamu saja sayang, MONDOK belajar disiplin, Jangan ngebantah!”
Selalu begitu, seolah aku hidup bagaikan boneka yang sisa diputar kuncinya, sudah akan nurut. “Jangan ngebantah!” kata itu selalu sempurna mengkunci mulutku hingga berakhir gerutu yang panjang dalam hati. akh bunda, apa salahnya sih sekolah di sekolah negeri, berkelas, olimpiade fisikaku apa belum cukup ngebuktiin kalau aku bisa diandalkan, Mondok sama dengan PENJARA. PESANTREN akh kata itu sempurna buatku ciut ketika bertemu dengan teman-teman nantinya. Bayangin aja tinggal di suatu wilayah yang jauh dari rumah penduduk, dikelilingi pepohonan semacam hutan yang tak pernah terjamah. Pagar yang tinggi menjulang tak ada cela tuk lari, tak ada cela berlehai-lehai, televisi? jangan ditanya cuma ada satu itu pun disimpan di kamar Ustazah penjaga pondokan. Pikiran-pikiran dan selintas bayangan mondok di pesanten seolah mencekik tiap detiknya hingga aku lelah dan terbawa dalam mimpi yang membayang muram.
***
Waktu meroket, belingsatan menuju hari pertama aku mondok. Aku paham betul yang namanya permulaan pertemuan, canggung dan kaku adalah bahasa tubuh yang entah mengapa selalu menjadi awal dari pertemuan dengan bumbu-bumbu senyum tipis dan sedikit keramahan yang dibuat-buat. Sama sekali bukan aku. Kulihat di sekeliling. Tak ada yang menarik, kecuali satu yang tertangkap oleh mataku, rumah pohon.
Sentuhan ibu membuyarkan lamunanku dan mengalihkan pandanganku.
“Sayang, selama seminggu kamu akan mondok di pesantren ini, pergunakan waktumu sebaik-baiknya, ini sudah pertengan ramadan.”
Hanya anggukan tanda tak ikhlas mondok. Melawan? Ini bulan suci, dia ibuku satu-satunya yang aku miliki. Ngebantah? Kasian sedari dulu dia bekerja untuk menghidupiku dan saudara-saudaraku. Nurut? Pilihan yang tepat meski sebenarnya nyiksa diri. Senja kali ini kelihatan muram, semburat rona jingga hampir tersaput awan hitam. Lihatlah langit seolah turut berduka atas hati yang tak kunjung menemui cahaya.
Pesantren tak seburuk pikiran yang membayang dibenakku. “Penjara?” Aku berdelik ketika kata itu disebut-sebut penceramah yang merupakan teman sebaya. “Pesantren merupakan penjara bagi sebagian orang memang betul, penjara, Penjaga Jarak antara akhwat dan ikhwat, penjara, penjaga jarak dari hal-hal buruk …”  Seolah ia mampu membaca tatapanku meski penjara dengan pemahaman yang berbeda.
Usai tarawih Ustaz Farid mengumumkan pelaksanaan salat tasbih pukul 02.00, setiap santri diharapkan tidur lebih awal. “Semua serba terjadwal.” Gumamku. Aku bergegas menuju asrama, langkahku terhenti di pembelokan terakhir. Mataku berfokus pada rumah pohon. Tanpa harus menghitung kancing baju, segera aku melangkah dan secepat kilat aku sudah tiba di atas rumah pohon. Mataku bagai petromaks mengintari seluruh ruangan yang terbilang sempit. Banyak foto-foto kegiatan santri, buku-buku yang tersusun apik dalam rak, lampu agak redup, kipas angin gantung yang bisingnya mengalahkan baling-baling pesawat, dan karpet merah yang merahnya mengalahkan cahaya lampu.
“Ada keperluan apa di tempat ini?”
Pertanyaan itu membuatku gelagapan. Tubuhku kaku diguyur keringat persis pencuri yang ketangkap basah maling ayam dan diam adalah jawaban.
“Aku Furqon ketua OSIS di Pesantren ini.”
Aku hanya mengangguk, menundukkan pandangan dan berlalu. Furqon yang tadi membawakan ceramah. Pertemuan pertama selalu diawali dengan bahasa tubuh yang canggung dan kaku. Selalu begitu.
Inilah malam terpanjang yang harus kulewati, malam dengan desahan nafas tertahan, malam dengan isakan tangis, dan malam atas rasa bersalah telah mengutuki pesantren. Bercampur aduk menggaruk-garuk hati dari tebalnya kabut yang menghijab hati menghadang segala cahaya-Mu hingga mata mengatup meski hati tetap mengeram dalam tanya.
Sebuah surat kuterima dari teman sekamarku Fitri. Perlahan kubuka amplop merah jambu yang membungkus secarik kertas.
“Miftah Jannatul Ma’wa, namamu adalah salah satu dari pintu surga maka jadilah surga dalam dirimu
Surga ketiga dan kamu adalah anak ketiga, sungguh jangan menyiksa dirimu sendiri
Surga ketiga yang terbuat dari Zabarjud Hijau, sungguh jadikanlah hatimu kediaman surgamu
Mahabenar janji Allah atas firmannya:
"Adapun orang - orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh. maka bagi mereka mendapat surga - surga tempat kediaman, merupakan pahala pada apa yang telah mereka:kerjakan". (An Naazi'aat: 41)
Lapangkanlah hatimu, waktu adalah sebaik-baik pengobat pilu.”
                                                                                                                                    Furqon
Tak ada lagi kata yang mampu terucap dibibir hanya air mata yang menganak sungai. Terlintas wajah kebas bunda yang lelah atas perilakuku. Hati ini berserah pada-Mu, melarungkan diri dalam tasbih hingga pagi datang membuka harapan baru.


#Cerpen yang belum lolos ke media :'( 
Kamis, 25Juli13
fiGhting! :D

0 komentar:

Posting Komentar