“Aku tak tahu
harus melakukan apa. Banyak yang gaduh di sini –pikiran— namun tetap saja di
hati hanya terukir satu nama. Entah kata apa yang harus kurangkai untuk ayah
agar ia paham. Apa yang harus kulakukan? Serasa aku kehilangan arah! Aku hanya
mengikuti arus lantaran belum memiliki dayung. Perahuku hanya mengalir saja
mengikuti arah mata angin. Sekenannya membawanya berlayar. Rasanya sulit sekali
menggerakkan perahu yang satu ini –hati—“
Hei, apa yang
membuatmu begitu membatu? Haruskah aku mengeluarkan cambuk ekor pari? Seperti
yang dilakukan guru mengajimu? Aku yakin kau masih mampu merasakan betapa
sakitnya waktu itu. Boleh jadi sakit di badanmu lekas sembuh. Tapi bagaimana
dengan hatimu? Apa baik-baik saja? Kau malu kan ketika ekor pari itu menghujam
punggungmu lantaran tak tahu mengaji. Semua mata mengarah padamu. Rerintik di
matamu mulai berjatuhan dengan irama isakan yang terdengar begitu pedih. Bukan
karena punggungmu sakit, melainkan tetangga yang menatapmu prihatin. Mereka
mencemooh anak seorang HAJI tiga kali tetapi tak bisa mengaji.
Kau masih ingat
waktu itu? Kau terus berlatih meski masih patah-patah. Kau menangis tertahan
ketika usai salat subuh kau terus mencoba merangkai huruf-huruf arab tersebut.
Rasanya sulit sekali menggerakan geraham, terlalu kaku bagimu. Herannya engkau
terlalu fasih ketika menyanyikan lagu-lagu barat. Kau tahu kenapa? Karena kau
terlalu sering mendengarkannya. Sederhana saja bukan? Satu lagi, barangkali kau
lupa. Hati senantiasa akan tergerak ketika ia digerakkan dengan pembiasaan.
Barangkali kau
juga lupa Rheya ketika engkau dipanggil ke meja bundar. Ia meja bundar yang
berarti ada perilaku menyimpang yang tak disukai keluargamu. Engkau datang
dengan wajah ketus. Cantik sekali rupamu, rambutmu terurai hitam mengkilat
–habis direbonding—kau memang keras kepala Rheya. Sudah beribu kali engkau
dingatkan untuk berjilbab tapi engkau hanya berkata...
“Aku takkan
berjilbab jika hatiku belum berjilbab!”
Aku tak bisa
menahan tawa mendengar kalimat bodohmu. Seketika ayahmu datang membawa sebuah
buku kumpulan cerita pendek islami “Jilbab Pertamaku” satu kalimat saja yang
membuat mulutmu terkunci dan tak ada alasan untuk tidak membaca buku yang
menurutmu konyol itu, kau bahkan menyumpahi para penulisnya.
“Sekolahmu akan
berakhir jika engkau tak membacanya hingga kau paham!”
Engkau memang
keras kepala Rheya, bahkan namamu Raodah entah bagaimana caramu kau bisa
menyulap orang-orang memanggilmu dengan sebuta Rheya. Hahaha
Kata demi kata
mulai terangkai dalam pikiranmu. Diam-diam menelusuk hingga ke dasar hatimu.
Barangkali tak mudah bagimu, tapi lihatlah karena kesungguhan, hatimu tergerak
bak speedboat yang sedang menikung dengan
gerakan yang mengagumkan. Wajahmu cantik mengenakan jilbab Rheya!
“Ini tak sama
ketika aku belajar mengaji yang kemudian hatiku tergerak karena ekor pari yang
menghujam punggungku dan cemooh tetangga. Tak sama pula ketika aku disuruh
berhijab. Seketika hatiku tergerak bak speedboat yang menikung hanya karena
buku kumpulan cerpen dan kalimat ayah yang mengancam masa depanku. Tak sama Za!”
“Hatimu akan
tergerak jika ia sudah terbiasa.”
“Aku tak mungkin
menerima lamaran itu lantaran ia kaya dan mampu membuatku bahagia seperti
presepsi ayahku.”
“Kau mampu
melakukannya Rhe!”
Aku terdiam,
mengapa pula Za terlalu menginginkan aku menerima lamaran lelaki itu.
“Aku rasa bukan
itu yang membuatmu menolaknya Rhe! Ini karena Raihan kan?”
“Barangkali!”
aku mengangkat bahu, wajah Za Nampak merah padam entah apa yang dirasakannya
suasana jadi hening kemudian aku melanjutkan pembicaraan.
“Hatiku sudah
terbiasa dengannya Za.”
“Bagaimana
denganku Rhe? Aku mengenal Raihan dari kecil hingga kita sama-sama tumbuh
menjadi dewasa kemudian aku mengenalkannya denganmu. Kau tahu kan aku sudah
sejak lama terbiasa dengannya. Bagaimana dengan hatiku? Apakah ia hanya
menganggap Raihan teman biasa saja? Tak mungkin bukan? Harusnya kau tahu diri!”
Aku tersentak
mendengar pengakuan Za. Ngilu di ulu hati mulai berdebam seolah peluru-peluru menghujam di dada mengingatkan
aku untuk tahu diri. Bukankah Za telah mati-matian mengingatkanku prihal masa
laluku yang selalu menurut keinginan ayah, bukankah ia menginginkanku menerima
perjodahan itu lantaran hatinya telah tertambat pada Raihan. Aku harusnya tahu
diri seperti yang dikatakan Za. Aku hanya memiliki perahu tak berdayung yang
hanya berlayar mengikut arah mata angin.
***

0 komentar:
Posting Komentar