RSS

Perahu Tak Berdayung Oleh: NF




“Aku tak tahu harus melakukan apa. Banyak yang gaduh di sini –pikiran— namun tetap saja di hati hanya terukir satu nama. Entah kata apa yang harus kurangkai untuk ayah agar ia paham. Apa yang harus kulakukan? Serasa aku kehilangan arah! Aku hanya mengikuti arus lantaran belum memiliki dayung. Perahuku hanya mengalir saja mengikuti arah mata angin. Sekenannya membawanya berlayar. Rasanya sulit sekali menggerakkan perahu yang satu ini –hati—“
Hei, apa yang membuatmu begitu membatu? Haruskah aku mengeluarkan cambuk ekor pari? Seperti yang dilakukan guru mengajimu? Aku yakin kau masih mampu merasakan betapa sakitnya waktu itu. Boleh jadi sakit di badanmu lekas sembuh. Tapi bagaimana dengan hatimu? Apa baik-baik saja? Kau malu kan ketika ekor pari itu menghujam punggungmu lantaran tak tahu mengaji. Semua mata mengarah padamu. Rerintik di matamu mulai berjatuhan dengan irama isakan yang terdengar begitu pedih. Bukan karena punggungmu sakit, melainkan tetangga yang menatapmu prihatin. Mereka mencemooh anak seorang HAJI tiga kali tetapi tak bisa mengaji.
Kau masih ingat waktu itu? Kau terus berlatih meski masih patah-patah. Kau menangis tertahan ketika usai salat subuh kau terus mencoba merangkai huruf-huruf arab tersebut. Rasanya sulit sekali menggerakan geraham, terlalu kaku bagimu. Herannya engkau terlalu fasih ketika menyanyikan lagu-lagu barat. Kau tahu kenapa? Karena kau terlalu sering mendengarkannya. Sederhana saja bukan? Satu lagi, barangkali kau lupa. Hati senantiasa akan tergerak ketika ia digerakkan dengan pembiasaan.
Barangkali kau juga lupa Rheya ketika engkau dipanggil ke meja bundar. Ia meja bundar yang berarti ada perilaku menyimpang yang tak disukai keluargamu. Engkau datang dengan wajah ketus. Cantik sekali rupamu, rambutmu terurai hitam mengkilat –habis direbonding—kau memang keras kepala Rheya. Sudah beribu kali engkau dingatkan untuk berjilbab tapi engkau hanya berkata...
“Aku takkan berjilbab jika hatiku belum berjilbab!”
Aku tak bisa menahan tawa mendengar kalimat bodohmu. Seketika ayahmu datang membawa sebuah buku kumpulan cerita pendek islami “Jilbab Pertamaku” satu kalimat saja yang membuat mulutmu terkunci dan tak ada alasan untuk tidak membaca buku yang menurutmu konyol itu, kau bahkan menyumpahi para penulisnya.
“Sekolahmu akan berakhir jika engkau tak membacanya hingga kau paham!”
Engkau memang keras kepala Rheya, bahkan namamu Raodah entah bagaimana caramu kau bisa menyulap orang-orang memanggilmu dengan sebuta Rheya. Hahaha
Kata demi kata mulai terangkai dalam pikiranmu. Diam-diam menelusuk hingga ke dasar hatimu. Barangkali tak mudah bagimu, tapi lihatlah karena kesungguhan, hatimu tergerak bak speedboat yang sedang menikung dengan gerakan yang mengagumkan. Wajahmu cantik mengenakan jilbab Rheya!
“Ini tak sama ketika aku belajar mengaji yang kemudian hatiku tergerak karena ekor pari yang menghujam punggungku dan cemooh tetangga. Tak sama pula ketika aku disuruh berhijab. Seketika hatiku tergerak bak speedboat yang menikung hanya karena buku kumpulan cerpen dan kalimat ayah yang mengancam masa depanku. Tak sama Za!”
“Hatimu akan tergerak jika ia sudah terbiasa.”
“Aku tak mungkin menerima lamaran itu lantaran ia kaya dan mampu membuatku bahagia seperti presepsi ayahku.”
“Kau mampu melakukannya Rhe!”
Aku terdiam, mengapa pula Za terlalu menginginkan aku menerima lamaran lelaki itu.
“Aku rasa bukan itu yang membuatmu menolaknya Rhe! Ini karena Raihan kan?”
“Barangkali!” aku mengangkat bahu, wajah Za Nampak merah padam entah apa yang dirasakannya suasana jadi hening kemudian aku melanjutkan pembicaraan.
“Hatiku sudah terbiasa dengannya Za.”
“Bagaimana denganku Rhe? Aku mengenal Raihan dari kecil hingga kita sama-sama tumbuh menjadi dewasa kemudian aku mengenalkannya denganmu. Kau tahu kan aku sudah sejak lama terbiasa dengannya. Bagaimana dengan hatiku? Apakah ia hanya menganggap Raihan teman biasa saja? Tak mungkin bukan? Harusnya kau tahu diri!”
Aku tersentak mendengar pengakuan Za. Ngilu di ulu hati mulai berdebam  seolah peluru-peluru menghujam di dada mengingatkan aku untuk tahu diri. Bukankah Za telah mati-matian mengingatkanku prihal masa laluku yang selalu menurut keinginan ayah, bukankah ia menginginkanku menerima perjodahan itu lantaran hatinya telah tertambat pada Raihan. Aku harusnya tahu diri seperti yang dikatakan Za. Aku hanya memiliki perahu tak berdayung yang hanya berlayar mengikut arah mata angin.
***

0 komentar:

Posting Komentar