RSS

Mahlin

Malam semakin pekat, betul Katamu Mahlin sepekat teh yang kusuguhkan kala dentuman jam semakin mencekam. Entah mengapa pulas semakin menjauh. Barangkali ia rindu seperti ini. Sibuk dengan pikiran-pikiran sendiri, menperhitungkan segala kemungkinan-kemungkinan yang mungkin hanya omong kosong belaka. Malam semakin pekat, suara jangkrik saja sudah tak terdengar barangkali ia sudah tertidur pulas menapaki indahnya buaian mimpi. Katamu malam semakin pekat, sepekat teh yang kusuguhkan, bukan hanya itu, pekatnya malam, sepekat perasaan atas segala keinginan-keinginan. Tentang keinginan, aku tak mengharap banyak hal, tak juga padamu lantaran mengharap padamu hanya akan membuat hati semakin pekat, tapi yang kuherankan mengapa setiap harinya ada keinginan tuk menatap mu dari kejahuan lewat jendela kecilku. Walau hanya sekadar menatap, terdiam, udah itu saja, sekadar ingin memastikan kamu belum pergi. Kamu masih terlihat meski hanya punggungmu saja yang semakin hari semakin samar. Kita perlu sama-sama yakin, akh yakin saja tidak cukup sebab yakin akan melemah karena keraguan. Akh sudahlah! Masih banyak hal yang harus kupahami, sebab ada yang lebih berarti daripada sebuah perasaan atas segala keinginan-keinginannya.

0 komentar:

Posting Komentar