Bandar Udara Internasional Sultan Hasanuddin 19.37 p.m. sedang menunggu pesawat landing saya sempatkan menulis ini. Oh yah barangkali kamu bertanya-tanya ngapain saya di sini? Menunggu kerabat ibu dari negeri Jiran. Akh, sudahlah itu tidak terlalu penting. Malam ini aku juga tak ingin menceritakan prihal anak kerabat ibu yang ketika tersenyum matanya nyaris tertutup rapat itu. Hehehe Baiklah! Kali ini aku mau bercerita prihal lelaki yang datang tiba-tiba dan memintaku memahami apa yang dia rasakan. Resek kan? Sedang memahami diri sendiri pun masih selalu diusahakan. Ia waktu itu aku dapat telepon dari tante, kakak ibu, barangkali ia juga khawatir aku tenggelam dengan kesibukan yang membuatku jarang pulang dan tentunya ia sedang menanti diperkenalkan seseorang yang istimewa dan aku hanya bisa menjawab tunggu! sabar! doakan saja! Wualah... jauh disebrang sana setelah menanyakan kabar serta pertanyaan-pertanyaan lainnya yang membuatku merasa seperti anak kecil tiba-tiba suaranya berubah, bukan dia lagi yang berbicara, tetapi seorang lelaki yang entah siapa. Seperti pada umumnya ia mulai bertanya nama, alamat hingga orang spesial, parahnya ketika menanyakan kesiapanku dan ingin bertamu di rumah memintaku baik-baik sama ibu. Wuaduh! Rasanya tuh seperti sedang dibegal di tengah jalan yang lengang kemudian ditodong dan meminta paksa apa-apa yang kumiliki. Syok tak alang kepalang. Gila aja, emangnya perasaan sebegitu mudahnya? Aku bukan anak kecil yang ketika disuguhi permen main iyya iya aja. Ada beberapa proses yang harus dilalui hingga bisa memahami kemudian menerima bukan sekadar perasaan semata atas segala keinginan-keinginannya. Tentang proses, teman kampus saya barangkali merasa sedang berproses dengan saya melalui guyonannya hingga ia benar-benar lelah dan meminta keseriusan. Hualah lagi-lagi aku diminta memahami apa yang tak kumengerti. Padahal kan yang namanya perasaan akan memahami tanpa harus diminta karena itu pemberian dari-Nya. Iyya gak? Pernah sekali waktu dia chating dengan saya awalnya sih menanyakan tugas, hingga berakhir dengan meminta harapan aku hanya membalas jangan berharap pada manusia, berharap pada sang Maha Pemilik. Lalu ia kembali mempertegas "Masa selama tiga semester mau bercanda melulu, saya minta kejelasan apakah harapan itu ada? Meski tidak sekarang, tapi nanti! saya hanya takut berharap buah jatuh pada pohon yang tak berbuah!" Rasa-rasanya saya ingin langsung menjawab "Maaf, saya sedang menjelma menjadi pohon pinus yang engkau tunggu buahnya jatuh." Baterai hp sudah warning saya cukupkan ceritanya sampai di sini, semoga...semoga... akh kamu! ;)

0 komentar:
Posting Komentar