RSS

Kamu! #1

Senin malam, entah mengapa punya keinginan menulis ini. Ternyata menujumu bukanlah hal yang mudah. Aku tak pernah memiliki keinginan tuk memilikimu jika hanya sebatas angan atau ikatan yang kita buat-buat sendiri. Saya rasa kamu paham jika aku sudah benar-benar mengizinkan hatiku berpaut dengan hatimu itu berarti segenap hati keluargaku tentunya keluargamu juga ikut berpaut. Sebelum benar-benar menemukan kamu, aku ingin bercerita prihal lelaki yang sedikit menguras pikiranku. Kali pertama bertemu aku tak tahu persis yang kutahu aku bertemu dengannya di rumah kerabat dekat ibu. Barangkali memang sengaja tuk dipertemukan. Awalnya saya tak mengerti mengapa kerabat ibu banyak bercerita tentang keluarganya. Dengan wajah polos aku menjawab seadaanya. Di meja makan sambil menyantap hidangan makan malam yang kelezatannya tak usah diragukan lagi karena kerabat ibu yang satu ini sangat pandai memasak. Aku menikmati makananku wajarlah jarang sekali menemukan makanan ala-ala rumahan selezat ini biasanya hanya makan di warteg, lalapan, dan makanan siap saji lainnya. Setelah makan aku belum tersadar tentang cerita-cerita kerabat ibu. Pada malam lindap di balkon rumah sambil menyelesaikan tilawah tiba-tiba paman saya datang membawa sebotol minuman dingin. Tak usahlah saya sebut mereknya ntar dikira ngiklan. Hehehe. Paman ini terbilang pandai membuka pembicaraan dengan saya yang tabiatnya malu-malu (diawal-awal sih gitu, kalo udah kenal dekat, kocaknya udah gak ketolong lagi) pertanyaan demi pertanyaan aku jawab dengan sigap hingga mentok di pertanyaan "Selesai S2 langsung lanjut lagi S3?" Aku yang udah terbilang ceplas ceplos langsung nyosor menjawab, "Akh, Paman nikah dulu kali, gila aja!" Dari jawaban saya itu dan pertanyaan-pertanyaan paman berikutnya aku sudah mencium aroma makcombalang sedang beraksi. Akhirnya titik temu cerita di meja makan dan balkon rumah kutemukan juga muaranya. Aku tertawa, ini lucu menggelikan sekaligus mengkhawatirkan, hmm bahagia? Entahlah kali itu kamu jadi wajar dong aku bukakan jalan untuk dia. Well malam terlewati menyisakan tanya di kepala seperti apa rupa dia setelah mendewasa seperti sekarang ini. #bersambung

0 komentar:

Posting Komentar