Terkadang ketika aku dalam renunagan panjangku pada malam lindap satu-dua pertanyaan bermunculan hingga tumpah ruah. Akh... memang malam selalu terasa panjang menjemput pagi yang penuh Rahmat-Mu ya Rabb. Setiap hembusan nafas yang dititipkan kepadaku akan kugunakan untuk apa? Tangan yang lincah bergerak apa sudah tepat fungsi? mata yang melihat segala keindahan dunia, apa ia terjaga? Semoga saja tak dilena. Telinga yang senantiasa mendengar, apa sudah pada tempatnya? Bibir yang senantiasa berucap, apakah ia berucap yang baik-baik? Sedang Langkah kaki yang masih mencari arah apa sudah tepat arah? Rasanya sesak di dada tak kala aku ingin bebicara tentang hati. Apa ikhlas ada di sana? Apa segala yang baik-baik terpelihara di sana? Dan semoga saja segala dusta tak bersembunyi di sana! Semoga ya Rabb! Sungguh aku masih dengan pikiran-pikiranku yang aku sendiri masih belum mengenal tentang hati yang engkau titip dalam raga ini. Sungguh kelogisan dunia masih saja berdentang di kepala tak kala ingin berbuat. Sekali waktu aku pernah mengadu kepada Ibu. Ada sebuah kejadian yang membuat hatiku sakit dan berdetak serupa bunyi mesin jahit di kepala. Waktu itu aku sedang berbelanja di toko kelontong sebut saja Toko Mbak Sri. Aku suka berbelanja di tempatnya sebab Mbak Sri orangnya ramah dan suka senyum meski sebenarnya lebih murah jika berbelanja di mini market tapi tak apalah demi melihat senyum Mbak Sri,hehehe. Pada saat itu aku kehabisan sabun ia menawariku sabun mandi yang katanya sangat harum. Mbak Sri mempromosikan dengan ramah sembari tersenyum penuh ketulusan. Hingga aku mulai tertarik cukup murah untuk kantong mahasiswa, goceng dapat dua. Memang benar kata Mbak Sri sabunnya wangi semerbak. Aku datang lagi di Toko Mbak Sri, sayang yang melayani bukan Mbak Sri, tapi suaminya Mas Darmo. Kuutarakan maksudku untuk membeli sabun sesuai harga yang pernah diberikan Mbak Sri. Suara Mas Darmo tentu beda dengan Mbak Sri, apalagi wajah sedikitpun tak ada keteduhan kutemui pada saat itu barangkali karena cuaca yang sangat panas hingga yang nampak pun wajah berang Mas Darmo.
"Iyya, yang itu sabunnya Mas."
"Bener goceng?"
"Iyya Mas."
"Apa kamu tidak berbohong? Akh jangan-jangan kamu berbohong?" Tuduh Mas Darmo berkali-kali di tengah pembelinya yang lain. Mataku mulai berkaca, hanya mau beli sabun, pun jika harganya naik aku masih sanggup bayar. Rasanya ada sebilah bambu yang tersasar di hati. Aku menatap tajam dan berucap "Tidak jadi!" Kemudian berlalu. Aku menceritakan kejadian itu kepada Ibu. Ibu hanya menjawab, "Lah baru seperti itu kamu sudah tersinggung? Barangkali hatimu belum baik." Hatiku belum baik? Kembali aku meraba-raba masih banyak hal yang harus kurapikan prihal hati yang masih berarak-arak sebab berjarak dengan kebaikan. Ampuni dan tuntunlah ya Rabbi.
Satu-dua Tanya Tumpah Ruah
Diposting oleh
Unknown
on Kamis, 28 Agustus 2014

0 komentar:
Posting Komentar